Skip directly to content

3 Alasan Media Sosial Buruk Bagi Kesehatan Mental

05/08/17

 

Media sosial barangkali menjadi salah satu aspek paling berpengaruh dalam kehidupan masyarakat saat ini. Setidaknya satu generasi tumbuh bersama internet sebagai bagian dari kehidupan mereka. Tetapi terlalu “nyandu” dengan media sosial ternyata berdampak buruk bagi kesehatan mental.

Seorang profesor dari University of Pittsburgh School of Medicine, Brian Primack, mengatakan bahwa di kalangan anak muda, media sosial sudah menjadi endemik dan menimbulkan apa yang disebut isolasi sosial. Facebook, Twitter, Pintrest, Path maupun Instagram dan berbagai aplikasi pertemanan di internet menjadikan seseorang memiliki banyak teman, bisa ratusan bahkan ribuan teman. Namun di sinilah sumber masalah.

Menurut penelitian menggunakan kuesioner pada 1.787 orang berusia antara 19-32 tahun, didapatkan bahwa orang dewasa yang mengunjungi laman media sosial 58 kali atau lebih dalam seminggu, atau rata-rata 8-9 kali per hari, berisiko mengalami isolasi sosial tiga kali lebih besar dibandingkan mereka yang menggunakan media sosial kurang dari 9 kali per hari.

Manusia, menurut Prof. Primack, adalah makhluk sosial. Namun kehidupan modern cenderung menempatkan manusia pada kotak-kotak secara terpisah dan hal ini menyalahi sifat alamiah manusia. Terlepas dari manfaat media sosial dalam menciptakan banyak peluang, namun Primack mengingatkan bahwa media sosial bukanlah solusi.

Selain isu isolasi sosial, kasus-kasus terkait kriminalitas seperti bullying dan penipuan melalui media sosial dan juga kerap ditemukan. Dan inilah tiga alasan mengapa media sosial berkaitan dengan gangguan mental:

Pertama, penggunaan media sosial berlebihan berdampak langsung pada kesehatan fisik, sebelum akhirnya ke kesehatan mental. Salah satu pengaruh media sosial pada kualitas dan kuantitas tidur. Tidur sangat penting untuk kesehatan otak. Saat otak tidak bekerja sebagaimana mestinya, maka berpengaruh terhadap kesehatan mental. Selain itu posisi duduk terlalu lama, mata yang selalu menatap layar komputer atau telepon genggam, melewatkan waktu makan dan minum, dan diam tak bergerak adalah faktor risiko untuk datangnya penyakit fisik maupun mental. 

Kedua, meskipun tidak aktif menulis di sosial media, namun pengguna pasif yakni yang memantau media sosial terus menerus juga berpotensi mengalami gangguan mental. Para “stalker” ini menurut penelitian dapat mengalami rasa hampa dan kemarahan serta emosi negatif yang disebut FOMO atau “fear of missing”.

Ketiga, untuk pengguna media sosial aktif jelas berisiko mengalami gangguan mental. Dengan menggugah foto, status, video, dan melontarkan komentar maka pengguna cenderung terobsesi dengan perhatian atau pujian orang lain. Dalam psikologi, ini dikenal dengan mencari validasi eksternal. Sudah banyak kasus bunuh diri yang berawal dari media sosial. Meski bermanfaat tetapi harus diingat bahwa media sosial sangat berkontribusi pada gejala anti-sosial.

Referensi:

http://metro.co.uk/2017/03/06/social-media-is-driving-us-insane-and-you-should-worry-if-you-use-it-for-two-hours-a-day-6490224/

https://www.theguardian.com/mental-health-research-matters/2017/jan/20/is-social-media-bad-for-young-peoples-mental-health

http://www.huffingtonpost.ca/robertwhitley/social-media-mental-health_b_11893462.html

 

PP-CPF-IDN-0079-AUG-201