Skip directly to content

Alasan Pria pun Harus Langsing

18/07/17

 

Langsing identik dengan perempuan. Sebagian besar perempuan selalu ingin terlihat langsing semata-mata demi penampilan dan sebagian kecil lainnya karena alasan kesehatan. Apapun alasannya, memiliki berat badan ideal sangat bagus untuk kesehatan. Berat badan berlebihan mengarah pada obesitas terbukti berkaitan dengan banyak penyakit kronis seperti hipertensi, penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit sendi, diabetes, dan sebagainya.

Tetapi sebenarnya langsing bukan monopoli bagi kamu Hawa saja. Sebenarnya, tidak ada alasan bagi pria untuk tidak terlihat langsing. Perut gendut, adalah “penyakit” yang umum diderita kaum pria tengah baya. Fenomena ini jamak terjadi pada kaum pria yang sudah mapan namun malas berolahraga dan diet tidak sehat. Lemak rongga perut ini adalah sumber berbagai gangguan metabolik yang mengarah pada penyakit kronis.

Menurunkan berat badan sangat dianjurkan. Hal ini karena berapapun berat badan yang dapat dikurangi, bahkan hanya 5 sampai 10 persen dari total berat badan, tetap akan berdampak baik bagi kesehatan. Misalnya, tekanan darah menurun menjadi normal, kolesterol darah berkurang dan kadar gula pun turun.

Jika seorang pria memiliki berat 100 kg misalnya, maka penurunan berat badan 5-10 persen setara dengan 10 kg.  Meskipun berat badan masih 90 kg, atau masih masuk kategori kelebihan berat badan, tetapi sudah jauh lebih baik dalam menurunkan risiko penyakit kronis akibat obesitas.

Ada persepsi tentang langsing yang mesti diluruskan. Kadang-kadang, seseorang yang di mata orang lain terlihat ramping cenderung kurus, dipersepsikan sebagai langsing. Padahal, badan ramping belum tentu langsing. Ramping adalah menggambarkan ukuran seperti lingkar pinggang, lengan, perut, paha yang ideal. Sedangkan langsing adalah ukuran perbandingan komposisi tubuh, yakni keseimbangan antara lemak tubuh dan massa otot dan tulang. Maka jangan heran jika seorang pria yang bentuk badannya ideal alias ramping tetapi lemak di tubuhnya masih lebih besar daripada masa otot. Dengan kata lain, ramping saja belum menjamin tubuh yang sehat.

Dalam istilah kebugaran ada istilah yang disebut atrofi, yakni hilangnya massa otot secara alamiah yang dimulai di usia 25 tahun, pada seseorang yang malas beraktivitas fisik teratur. Menginjak usia tengah baya, maka penyusutan massa otot semakin besar, jika tidak diimbangi dengan olahraga. Ketika atrofi dimulai, setidaknya seperempat sampai setengah kilogram otot akan menyusut per tahun dan digantikan oleh lemak. Otot adalah jaringan yang sangat aktif dalam proses metabolisme, sehingga ketika metabolisme melambat maka kelebihan lemak akan menumpuk di otot.

Di usia 40 tahun, rata-rata massa otot yang hilang sekitar 5-7 kg dan lemak yang menumpuk mencapai 10-15 kg. Maka tanpa olahraga untuk membakar lemak ini, niscaya massa lemak ini akan semakin terlihat kasat mata dalam bentuk “kegemukan”.

Maka jelas bahwa menjaga tubuh tetap langsing dengan olahraga dan aktivitas fisik teratur bukan omong kosong. Olahraga bahkan kini sudah diresepkan sebagai bagian dari pengobatan. The American College of Sports Medicine merekomendasikan olahraga dilakukan minimal 2 - 3 kali seminggu bagi pria maupun perempuan dewasa sehat dengan intensitas sedang-berat.

Prinsip menurunkan berat badan yang benar adalah secara bertahap dan konsisten (0,5-1 kg per minggu). Penurunan berat badan bukan sekadar diet dan program olahraga tetapi yang lebih penting mempertahankan gaya hidup sehat seumur hidup.

 

Referensi:

https://www.cdc.gov/healthyweight/losing_weight/

http://www.healthguidance.org/entry/3547/1/Being-Thin-And-Being-Lean-Is-There-A-Difference.html

 

PP-CPF-IDN-0068-AUG-2018