Skip directly to content

Anemia pada Anak Sering Tidak Disadari

05/08/17

 

Kekurangan zat gizi mikro adalah salah satu bentuk kurang gizi yang sulit dikenali. Anemia salah satunya. Anemia akibat kekurangan zat besi, kerap dialami anak-anak di usia pra-sekolah maupun sekolah. Gejalanya kadang tidak disadari oleh orangtua.

Anemia terjadi karena kekurangan sel-sel darah merah. Sel darah merah ini dibuat di sumsum tulang belakang dan beredar ke seluruh bagian tubuh sebagai kendaraan bagi oksigen yang diperlukan seluruh organ tubuh. Umur sel darah merah sekitar 120 hari, dan akan digantikan oleh sel-sel yang baru. Siklus ini berjalan terus menerus.

Ketika jumlah sel darah merah atau hemoglobin berkurang, maka terjadi anemia. Penyebabnya  dapat berasal dari “pabriknya” yakni sumsum tulang belakang  yang tidak mampu memproduksi hemoglobin dalam jumlah cukup, atau sel darah merah yang mudah rusak. Salah satu zat gizi penting yang berperan dalam produksi sel-sel darah merah adalah zat besi.

Zat besi banyak ditemukan pada daging merah, kacang buncis, dan sayuran berwarna hijau tua. Tanpa zat besi, maka tubuh kita tidak dapat membuat sel darah merah atau hemoglobin. Namun bukan hanya zat besi saja yang penting untuk keperluan produksi hemoglobin. Ada vitamin B12 yang juga penting, dan banyak ditemukan di makanan hewani.

Beberapa gejala anemia yang harus dikenali di antaranya muka pucat, kelopak mata bagian dalam dan kuku juga pucat. Saat di rumah maupun di sekolah, anak cenderung lesu dan mudah lelah. Pada anemia berat, gejalanya meliputi napas pendek tersengal-sengal, detak jantung meningkat dan bengkak di tangan atau kaki. Dan pada kondisi di mana kadar zat besi dalam darah sudah sangat rendah, maka ada gejala si anak akan makan benda-benda aneh seperti tanah, tanah liat, atau tepung kanji. Perilaku ini disebut “pica”.

Jika menemukan gejala di atas maka segera bawa anak ke dokter. Sebaiknya anemia tidak diabaikan karena dapat berdampak pada performa anak di sekolah yang mengganggu kemampuan menangkap pelajaran. Bahkan anemia kronik dapat berdampak jangka panjang seperti gagal tumbuh.

Untuk mencegah anemia pada anak, terutama anemia yang disebabkan kekurangan zat besi, maka ada hal-hal yang dapat dilakukan orangtua sejak si Kecil dilahirkan:

Bayi lahir cukup bulan. Untuk bayi yang dilahirkan cukup bulan dapat diberikan suplemen zat besi di usia 4 bulan. Setelah memasuki usia 6 bulan berikan makanan pendamping ASI yang kaya zat besi, minimal dua kali sehari. Saat ini kebanyakan makanan pendamping ASI yang sudah difortifikasi dengan zat gizi termasuk zat besi. Tidak perlu lagi menggunakan suplemen zat besi jika kebutuhan zat besi si Kecil sudah terpenuhi.

Bayi prematur. Untuk bayi prematur, suplemen zat besi dapat diberikan di usia 2 minggu, tentu dokter anaklah yang akan memberikannya. Suplemen umumnya diberikan sampai usia 1 tahun.

Jangan berikan susu berlebihan. Antara usia 1 sampai 5 tahun, sebaiknya tidak berlebihah minum susu. Cukup maksimal 710 mililiter susu dalam sehari.

Bantu penyerapan zat besi. Vitamin C bermanfaat meningkatkan penyerapan zat besi. Berikan si Kecil asupan makanan yang kaya vitamin C seperti jeruk, strawberi, tomat, dan sayur-sayuran berwarna hijau gelap.

 

Referensi :

http://kidshealth.org/en/kids/anemia.html#

https://www.healthychildren.org/English/health-issues/conditions/chronic/Pages/Anemia-and-Your-Child.aspx

http://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/childrens-health/in-depth/iron-deficiency/art-20045634?pg=2

 

WIDPAC0817190/07