Skip directly to content

Apa yang Perlu Anda Ketahui tentang Andidepresan?

01/06/17

 

Seseorang yang mengalami gejala kesedihan amat dalam, putus asa, dan tidak ingin melakukan apapun dalam hidup, umumnya akan mengonsumsi pil antidepresan. Walaupun mereka menyadari kekeliruan, tak jarang mereka mengonsumsinya tanpa berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter. Benarkah antidepresan adalah pilihan terbaik, dan tidak menimbulkan dampak jangka panjang?

Banyak disebut-sebut bahwa depresi terjadi karena ketidakseimbangan senyawa kimiawi di otak, dan antidepresan dapat mengembalikan keseimbangan tersebut. Padahal, teori ini tidak didukung oleh bukti yang kuat. 

Penelitian di bidang kesehatan mental meyakini bahwa penyebab depresi jauh lebih kompleks daripada sekedar adanya senyawa-senyawa kimia otak yang tidak seimbang antara serotonin, dopamin, dan norepinefrin. Melalui penelitian besar didapatkan fakta bahwa ada faktor lain penyebab depresi, seperti faktor psikologis, peradangan, meningkatnya hormon stres, kelemahan sistem imun, aktivitas otak yang tidak normal, kurang nutrisi hingga penyusutan sel-sel otak. Dan semua ini hanyalah penyebab dari aspek biologis. Masih ada faktor sosial, seperti perasaan kesepian, rasa rendah diri yang parah, diet yang buruk hingga kurang olahraga.

Antidepresan adalah obat yang dapat meningkatkan kadar serotonin, atau senyawa pembawa rasa bahagia, di otak. Tetapi tidak selalu depresi disebabkan kekurangan serotonin. Meski begitu, bukan berarti antidepresan tidak efektif. Ketika depresi berada pada tingkat yang berat, maka antidepresan akan membantu, bahkan menjadi penyelamat hidup seseorang, misalnya dari keinginan bunuh diri.

Tetapi, tidak semua penderita depresi akan membaik dengan pemberian antidepresan saja. Bahkan ada penderita yang depresinya makan memburuk. Beberapa kasus menunjukkan di tahap awal, antidepresan dapat menghilangkan gejala depresi, namun pada suatu saat gejala akan datang kembali.

Pertanyaan-pertanyaan berikut ini dapat membantu kita semua hal penting terkait antidepresan.

Kapan antidepresan sebaiknya diberikan?

Penanganan depresi dengan obat-obatan diberikan pada kasus depresi berat di mana sudah sampai pada tahap menganggu aktivitas penting sehari-hari, misalnya bekerja, sekolah, hubungan dengan pasangan dan sebagainya. Namun berdasarkan penelitian, antidepresan umumnya tidak terlalu efektif pada kasus depresi ringan sampai sedang.  Antidepresan juga diberikan jika semua pendekatan terapi non-obat sudah dijalankan tetapi tidak membaik, misalnya konseling disertai olahraga rutin, dan memperbaiki gaya hidup.

Apa saja efek samping antidepresan?

Ada banyak sekali jenis antidepresan, di antaranya golongan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs), antidepresan atipikal, tricyclic antidepressants (TCAs), dan monoamine oxidase inhibitors (MAOIs). Namun efek sampingnya hampir sama saja, mulai dari ringan sampai berat. Pada beberapa penderita, efek samping yang ditimbulkan cukup serius sehingga harus menghentikan pengobatan.

Beberapa efek samping antidepresan di antaranya: mual, sulit tidur, pusing, gemetar, mulut kering, diare, berat badan meningkat dsb. Namun untuk antidepresan lama seperti TCA dan MAOI, efek sampingnya jauh lebih hebat dibandingkan antidepresan yang lebih baru seperti SSRI atau antidepresan atipikal.

Apakah antidepresan dapat meningkatkan risiko bunuh diri?

Terdapat penelitian bahwa antidepresan membuat pasien memiliki keinginan bunuh diri yang meningkat. Risiko bunuh diri umumnya terjadi selama 1-2 bulan pertama pemakaian obat. Oleh karena itu, keluarga harus mengawasi dengan ketat pasien yang minum antidepresan untuk pertama kali, atau ada perubahan dosis. Amati jika ada ada tanda seperti pikiran atau perkataan ingin mati, depresi makin memburuk, sangat mudah tersinggung, hiperaktif, atau perubahan perilaku lainnya.

Bagaimana cara yang benar mengonsumsi antidepresan?

Dengan memahami antidepresan, maka semakin baik pasien atau keluarganya dalam menghadapi efek samping sehingga lebih aman. Selain memahami dan bijak menggunakannya, jangan lupa untuk terus berkonsultasi dengan psikiater. Penderita depresi yang mengonsumsi antidepresan sebaiknya patuh dengan instruksi pemakaian obat, jangan sembarangan mengonsumsi obat lain tanpa sepengetahuan dokter, memantau efek samping setiap saat dan bersabar. Karena untuk menemukan jenis dan dosis obat yang tepat seringkali harus dilakukan beberapa kali upaya. Jangan pernah menghentikan obat tiba-tiba tanpa sepengetahuan dokter.

 

Referensi:

http://www.helpguide.org/articles/depression/antidepressants-depression-medication.htm

http://www.nps.org.au/conditions/mental-health-conditions/mood-disorders/depression/for-individuals/medicines-for-depression-antidepressants/10-things-you-should-know-about-antidepressants

 

PP-CPF-IDN-0024-AUG-2018