Skip directly to content

Bijak Gunakan Antibiotik, Cegah Ancaman Resistensi Bakteri

21/11/17
  • Pekan Peduli Antibiotik Sedunia ingatkan masyarakat akan penggunaan antibiotik secara bijak dan bertanggungjawab
  • Pfizer dan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dukung penanganan dan pengendalian resistensi antimikroba

Surabaya, 16 Nopember 2017 - Konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum mengkonsumsi dan menggunakan antibiotik merupakan pesan utama penyelenggaraan Pekan Peduli Antibiotik Sedunia tahun ini yang berlangsung minggu ini di Surabaya.

Sejumlah kegiatan edukasi masyarakat digelar di RSUD Dr. Soetomo Surabaya dari 13 sampai 19 Nopember tahun ini meliputi lomba cerdas cermat “Sadar-Antibiotik”, lokakarya, seminar semi populer dan diskusi media diselenggarakan oleh Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD)  Dr. Soetomo Surabaya bekerjasama dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Pemerintah provinsi Jawa Timur, Universitas Airlangga, dan Pfizer .

Resistensi antimikroba (AMR) telah muncul sebagai salah satu tantangan dan menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin menyita perhatian para pemangku kepentingan kesehatan di seluruh dunia. Menurut data WHO, pada tahun 2014 terdapat 480.000 kasus baru multidrug-resistent tuberculosis (MDR-TB) di dunia[i] dan 700.000 kematian per tahun akibat bakteri resisten. Selain itu, berdasarkan laporan the Review on Antimicrobial Resistance, diperkirakan bahwa jika tidak ada tindakan global yang efektif, AMR akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahunnya pada tahun 2050. Angka tersebut melebihi kematian akibat kanker, yakni 8,2 juta jiwa per tahun dan bisa mengakibatkan total kerugian global mencapai US$ 100 triliun.[ii] Keprihatinan terhadap semakin banyaknya bakteri yang resistensi dengan antibiotik telah mendorong banyak negara dan berbagai insitusi di dunia untuk memberikan perhatian yang lebih terhadap isu kesehatan ini.

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr. Hari Paraton,  Sp.OG(K) mengatakan, “Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia secara aktif mendukung pengendalian AMR. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah antara lain telah berfungsinya Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) yang dibentuk tahun 2014 dan pelaksanaan program pengendalian resistensi antimikroba diawali pada 144 rumah sakit rujukan nasional dan regional serta Puskesmas di lima provinsi pilot project. Selain itu, sebagai acuan implementasi pengendalian resistensi antimikroba, Indonesia telah memiliki National Action Plan (NAP) on AMR dengan konsep one-health dan telah diserahkan oleh Menteri Kesehatan RI kepada WHO pada tanggal 15 Mei 2017 lalu.”

Tantangan yang harus dihadapi dalam penanggulangan resistensi bakteri menjadi tidak mudah karena persoalan ini bukan saja melibatkan pasien atau dokter, tetapi juga melibatkan industri farmasi, industri rumah sakit, dan kesadaran masyarakat. “Diperlukan kerjasama semua pihak untuk mengatasi masalah resistensi bakteri ini, terutama keterlibatan pemerintah, pendidikan, organisasi kemasyarakatan, organisasi profesi dan perusahaan farmasi,” ujar dr. Hari.

Sebagai bagian dari peringatan Pekan Peduli Antibiotik Sedunia dan sarana untuk meningkatkan kesadaran serta mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam pengendalian resistensi bakteri, Pfizer sebagai penyedia obat-obatan anti-infeksi dan obat anti jamur terkemuka di industri farmasi dunia berkomitmen mendukung langkah KPRA menginisiasi komitmen bersama untuk pengendalian resistensi bakteri di Indonesia yang melibatkan beberapa organisasi profesi kesehatan, kedokteran dan industri farmasi. Dengan pernyataan sikap dan komitmen bersama dari pemerintah, asosiasi profesi dan industri farmasi ini, diharapkan sinergi yang terbentuk meningkatkan perbaikan dalam penerapan penggunaan obat antibiotik yang rasional sehingga dapat mengatasi masalah resistensi bakteri di Indonesia.

Medical Director Pfizer Indonesia, Handoko Santoso mengatakan, “Pfizer memahami bahaya resistensi bakteri terhadap kesehatan masyarakat dan telah menempuh langkah-langkah signifikan untuk menghadapi masalah tersebut. Kami akan  terus berinovasi  dalam meningkatkan portofolio obat anti-infeksi dan anti jamur di seluruh dunia, di mana secara global kami menawarkan akses ke lebih dari 80 obat anti-infeksi dan anti-jamur untuk pasien dan tenaga  kesehatan.”

Awal 2016 lalu, Pfizer menandatangani Deklarasi pengendalian AMR (Declaration on Combating AMR), sebuah gerakan berskala internasional yang telah ditandatangani oleh lebih dari 100 perusahaan dan 13 organisasi bisnis yang mendukung kerja sama antara perusahaan dan pemerintah untuk menangani masalah AMR. Sebagai tindak lanjut deklarasi tersebut, September 2016 lalu Pfizer bersama 13 perusahaan industri farmasi merilis Industry Roadmap to Combat Antimicrobial Resistance, sebuah rencana tindakan komprehensif yang terdiri dari komitmen utama Pfizer untuk mengurangi peningkatan insiden resistensi bakteri yang akan direalisasikan hingga tahun 2020.

Lebih lanjut Handoko mengatakan bahwa  salah satu bentuk komitmen yang telah Pfizer lakukan di Indonesia untuk mendukung kampanye pengendalian penggunaan antibiotik adalah dengan mengadakan serangkaian kegiatan roadshow edukasi kepada jurnalis yang diselenggarakan di beberapa kota besar seperti  Jakarta, Surabaya, Yogyakarta dan Medan untuk mempercepat penyampaian informasi dan edukasi terkait penggunaan antibiotik yang terkendali dengan waktu, dosis dan cara pemberian yang tepat.

Selain itu, Pfizer menjalin kerjasama dengan asosiasi kedokteran seperti IKABDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Digestive Indonesia), PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia), PERDICI (Perhimpunan Dokter  Intensive Care Indonesia), PAPDI (Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia), PETRI (Perhimpunan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi Indonesia) melalui partisipasi di kegiatan-kegiatan ilmiah kedokteran, pembuatan guideline nasional serta memfasilitasi pengembangan edukasi berkelanjutan untuk para dokter terkait dengan pengendalian resistensi bakteri.

dr. Hari Paraton,  Sp.OG(K) menambahkan, “Kesadaran masyarakat terhadap pengendalian resistensi bakteri merupakan hal krusial. Namun, bukan hanya masyarakat umum, upaya edukasi juga perlu terus dilakukan terhadap dokter agar dapat bijak dan tepat dalam memberikan resep obat antibiotik kepada pasien. Untuk itu, edukasi mengenai antibiotik di kalangan tenaga kesehatan dan masyarakat harus diperkuat. Penggunaan antibiotik yang tidak terkendali dan tidak tepat, menyebabkan risiko terjadinya resistensi bakteri.”

Tenaga kesehatan tidak diperbolehkan memberikan antibiotik kepada pasien yang sebenarnya tidak membutuhkan. Antibiotik digunakan untuk mengobati infeksi bakteri, bukan mencegah atau mengatasi penyakit akibat virus.[iii] “Pekan Peduli Antibiotik Sedunia mendorong komitmen semua pihak untuk menerapkan program pengendalian resistensi antibiotik di tempat masing-masing dengan penggunaan antibiotik secara bijak dan bertanggung jawab” tutup dr. Hari.

#####


[i] World Health Organization (WHO). Antimicrobial resistance, Updated April 2015            <http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs194/en/>
[ii] The Review on Antimicrobial Resistance, Chaired by Jim O’Neill - December 2014
[iii] CDC Get Smart Program – Know When Antibiotics Work. Available from: www.cdc.gov/getsmart/
 
 
PP-CPF-IDN-0001-NOV-2017