Skip directly to content

Disfungsi Ereksi Hanya Memengaruhi Pria : Mitos atau Fakta?

07/12/18

Disfungsi Ereksi Hanya Memengaruhi Pria : Mitos atau Fakta?

Surabaya, 5 Desember 2018 --- Berbeda dengan mitos yang berkembang selama ini, Disfungsi Ereksi (DE) pada kenyataannya tidak hanya memengaruhi pria. Penyakit ini juga memberikan dampak negatif kepada pasangan mereka. 1

Sampai saat ini masih terdapat beberapa mitos atau anggapan yang keliru tentang DE sehingga diperlukan suatu edukasi untuk memahami DE lebih baik. DE merupakan penyakit yang dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya.

DE pada pria dapat menyebabkan frustrasi, rendahnya percaya diri dan perasaan tidak mampu yang pada akhirnya dapat menyebabkan depresi dan agresivitas. Akibatnya, hubungan pribadi, keluarga, bahkan sosial juga dapat terpengaruh jika dibiarkan tanpa perawatan. Oleh karena itu kesadaran pasien terhadap penyebab Disfungsi Ereksi (DE) dan pentingnya berkonsultasi dengan dokter merupakan faktor penting dalam keberhasilan pengobatan DE.2

Hasil studi Global Study of Sexual Attitudes and Behaviors (GSSAB) yang melibatkan 27.500 responden pria dan wanita dari 29 negara, menunjukkan bahwa kebanyakan pria dan wanita dengan disfungsi seksual tidak berkonsultasi dengan dokter. Perilaku seksual dapat dipengaruhi oleh beberapa hal di antaranya faktor budaya. Pria Asia dikenal konservatif terhadap seks dan kurang aktif secara seksual dibandingkan pria Barat.3

Kendala  lain untuk menemui dokter adalah dari sisi biaya, akses dan ketersediaan perawatan medis yang terbatas. Faktor – faktor sosial budaya dan ekonomi ini tampaknya menjadi penghalang orang mencari dan memperoleh perawatan medis. Temuan ini menyiratkan bahwa kesadaran publik tentang DE diperlukan untuk mendorong laki-laki untuk berkonsultasi dengan dokter.3

dr. Susanto Suryaatmadja MS. Sp. And dokter spesialis andrologi yang berpraktek di RSU Dr. Soetomo Surabaya dan RS Adi Husada mengatakan “Banyaknya mitos yang berkembang di masyarakat sebagai bagian dari norma dan budaya menjadi salah satu penyebab keengganan pria penderita DE untuk berkonsultasi dengan dokter dan cenderung memilih untuk mengobati sendiri. Ini perilaku yang perlu diubah.”

“Anggapan DE sebagai hal yang normal seiring bertambahnya usia merupakan salah satu mitos yang menghalangi seorang pria penderita DE untuk berkonsultasi dengan dokter. Keengganan untuk berkonsultasi dengan dokter tanpa disadari dapat menimbulkan risiko yang lebih besar bagi kesehatan,” ujar dr Susanto menambahkan.  Penderita perlu menyadari bahwa DE dapat disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya penyakit kardiovaskular, hipertensi, diabetes.4

Persepsi bahwa DE hanya menyerang pria lebih tua adalah persepsi yang harus diluruskan karena DE dapat menyerang semua pria tanpa mengenal batas usia. Pada usia muda, pria juga sudah mulai memiliki kondisi medis yang berisiko terkena DE seperti diabetes, tekanan darah tinggi dan penyakit kardiovaskular.2

Keenganan untuk berkonsultasi dengan dokter membuat pria mencari pengobatan sendiri diantaranya dengan pengobatan herbal. Herbal dianggap jalan pintas dalam mengatasi DE. “Sebaiknya pria berkonsultasi dulu dengan dokter sebelum mengambil tindakan pengobatan apapun,” dr. Susanto menjelaskan. Saat ini belum ada produk herbal yang secara ilmiah dan teruji secara klinis efektif dalam mengatasi DE.2

Kurangnya gairah seksual seringkali dianggap penyebab DE, padahal banyak kondisi medis, pengobatan dan faktor psikologis yang dapat menyebabkan DE. Untuk mencapai ereksi yang baik dibutuhkan sirkulasi darah, fungsi saraf, hormon dan libido. Testoteron yang rendah dapat memengaruhi libido namun bukan satu – satunya faktor yang memengaruhi ereksi.5

“DE memang tidak mengancam nyawa, namun harus disadari bahwa DE merupakan tanda adanya masalah serius pada kesehatan, untuk itu sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter segera jika memiliki gejala  gejala DE,” ujar dr.Handoko Santoso, Medical Director PT. Pfizer Indonesia. “Pfizer berkomitmen untuk terus berperan dalam membantu mendukung edukasi pasien untuk mendapatkan pengobatan yang paling tepat dan mencegah pasien dari tindakan mengobati sendiri untuk penyakit kompleks, seperti DE,” jelasnya.

“Penting untuk diketahui bahwa DE dapat dicegah, yaitu dengan gaya hidup sehat. Pola makan dengan gizi seimbang serta tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol berlebihan adalah gaya hidup sehat yang harus dilakukan untuk mencegah terkena DE. Aktivitas fisik juga berperan dalam meningkatkan aliran darah ke seluruh tubuh termasuk penis. Gaya hidup sehat tidak hanya bermanfaat mencegah DE namun bisa juga untuk mencegah penyakit – penyakit penyebab DE,” ujar dr. Susanto menutup penjelasan.

Catatan untuk Editor:

DE adalah ketidakmampuan untuk ereksi dan mempertahankannya dalam sebuah hubungan seksual.Terdapat beberapa gejala DE, antara lain; sulit untuk dapat ereksi, sulit untuk mempertahankan ereksi selama aktivitas seksual, atau tidak bisa ereksi sama sekali.4

Tentang Pfizer

Di Pfizer, kami mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan sumber daya global untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan di setiap tahap kehidupan. Kami berjuang untuk menetapkan standar untuk kualitas, keamanan dan nilai dalam pengembangan, penemuan dan pembuatan produk-produk kesehatan. Portofolio global kami, termasuk obat-obatan dan vaksin, serta masih banyak lagi produk perawatan kesehatan lainnya yang sudah terkenal di dunia. Setiap hari, para kolega Pfizer bekerja di negara – negara maju dan berkembang untuk memajukan kesehatan, pencegahan, perawatan dan pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit yang paling ditakuti di masa kini. Sejalan dengan tanggung jawab kami sebagai salah satu perusahaan biofarma inovatif terkemuka di dunia, kami juga bekerja sama dengan para penyedia layanan kesehatan, pemerintah dan komunitas lokal untuk mendukung dan memperluas akses ke perawatan kesehatan yang handal dan terjangkau di seluruh dunia. Selama lebih dari 150 tahun, Pfizer telah bekerja untuk membuat perbedaan bagi semua orang yang mengandalkan kami.

Di Indonesia, Pfizer didirikan pada tahun 1969, dan telah menjalankan operasional pabrik dan pemasaran sejak tahun 1971. Dimulai dengan hanya 11 pegawai, sekarang setelah penyatuan dengan beberapa perusahaan, jumlah pegawai mencapai hampir 600 orang. Untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai komitmen kami, silahkan kunjungi www.pfizer.co.id

Kontak Media:

Ninesiana Saragih

Communications Manager, PT Pfizer Indonesia

E: NinesianaMD.Saragih@pfizer.com

Ph: +62 21 57931088-89

M: +62 811 830 2292

 

(Eugenia Siahaan)

(Eugenia Communication)

E: eugenia.comm@gmail.com

Ph: +62-21 – 86607015

M: +62-817 - 4913353

 

1Mulhall JP, Hassan TA, Rienow J. Sexual habits of men with ED who take phosphodiesterase 5 inhibitors : a survey conducted in 7 countries. Int J ClinPract. 2018; 72(4): e13074 (cited November 2018)

2www.bostonmedicalgroup.com/myths-and-facts/erectile-dysfunction (cited November 2018)

3Park K, Hwang EC, and Kim SO, Prevalence and medical management of erectile dysfunction in Asia. Asian Journal   of Andrology (2011); 13(4): 543-549 (cited November 2018)

4Erectile dysfunction myths and facts http://www.niddk.nih.gov/health-information/urologic-diseases/erectile-d... (cited November 2018)

5Erectile dysfunction https://www.aafp.org/afp/2000/0101/p109.html (cited November 2018)