Skip directly to content

Gairah Seks Turun, Pertanda Apa?

01/06/17

 

Perempuan kerap mengeluhkan gairah seks yang menurun ketika memasuki usia 40-50 tahun. Tetapi kebanyakan tidak pernah membicarakannya karena malu atau merasa hal ini bukanlah hal yang penting. Maka wajar jika pada akhirnya hanya sekitar 2% yang mencari pengobatan.

Menurunnya gairah seksual perempuan di usia menjelang dan sesudah menopause adalah isu kesehatan yang jarang dibicarakan, bahkan oleh penderitanya. Padahal, saat mereka melakukan hubungan intim mereka sering mengeluhkan nyeri dan tidak nyaman karena vagina kering.

Ada beberapa alasan mengapa perempuan menunjukkan minat kegiatan seksual berkurang. Kebanyakan mereka menganggap bahwa kondisi ini adalah bagian dari proses penuaan, sehingga tidak ada hal yang dapat dilakukan. Selain itu perempuan usia menopause mengaku tidak memiliki energi untuk melakukan hubungan seksual, atau merasa kurang percaya diri dengan perubahan pada bentuk tubuh. Jika dibiarkan, hal ini tentu berdampak pada hubungan dengan pasangan.

Dalam istilah kedokteran, menurunnya gairah seksual disebut hypoactive sexual desire disorder (HSDD). Sebenarnya tidak hanya pada perempuan menopause saja, karena kondisi ini dapat dijumpai pada semua usia. Tidak seperti gangguan seksual pria (misalnya disfungsi ereksi), penyebab utama gairah seksual turun pada perempuan adalah faktor mental dan psikologis.

HSDD tidak ada kaitannya dengan frekuensi berhubungan seksual. Menurut Dr. Jan Shifren dari Harvard Medical School, tidak ada patokan yang pasti, berapa kali dalam seminggu atau sebulan hubungan seksual harus dilakukan untuk dikatakan normal. Masing-masing tahap usia melakukan hubungan seksual dengan frekuensi berbeda. Selama perempuan dan pasangannya merasa baik-baik saja, meskipun melakukan hubungan seksual tidak sesering pasangan lain, maka tidak ada masalah.

Tetapi ketika keinginan melakukan hubungan seksual pada perempuan sangat turun dan berdampak pada kehidupan dengan pasangan atau menyebabkan stress, maka bisa disebut sebagai HSDD. Gairah seksual bukan sekadar isu libido atau keinginan berhubungan seksual saja, namun  merupakan komponen biologis yang merefleksikan ketertarikan seksual secara spontan termasuk pikiran tetang berhubungan seksual, fantasi atau mimpi erotis. Semuanya merupakan tanda bahwa seseorang menginginkan untuk melakukan berhubungan seksual.

Penurunan gairah seksual saat usia bertambah adalah hal yang normal, akibat faktor fisik. Namun ada faktor-faktor lain yang memperberat di antaranya hubungan kurang harmonis dengan pasangan, pengaruh sosial termasuk stress di tempat kerja, kadar testosteron rendah, atau memiliki penyakit tertentu.

Hal ini tentu tidak dapat dibiarkan, karena sebuah penelitian mengatakan bahwa hubungan seksual sangat baik untuk kesehatan jantung, baik pada perempuan maupun laki-laki. Pada perempuan, hormon seksual yang dilepaskan saat orgasme memiliki peran penting untuk kesehatan.

Karena penyebabnya multifaktor, maka penurunan gairah seksual pada perempuan dapat diatasi dengan beberapa pendekatan, di antaranya melakukan konseling, mengevaluasi obat-obatan yang diminum saat ini, dan jika perlu menjalani terapi penggantian hormon. Saat ini bahkan sudah ada pil untuk menaikkan gairah seksual perempuan, namun penggunaannya harus melalui resep dokter.

Menjadi tua bukan berarti hubungan di atas ranjang ikut gelap dan suram. Kualitas seks boleh menurun, namun seharusnya kualitasnya hubungan seksual tetap terjaga.

 

Referensi:

http://www.webmd.com/sex-relationships/features/loss-of-sexual-desire-in-women

http://www.dailymail.co.uk/health/article-3819698/The-embarrassing-female-health-problems-millions-women-refuse-talk-about.html

http://www.medicaldaily.com/does-sex-get-better-or-worse-age-older-women-positive-body-image-find-sex-life-400331

http://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/low-sex-drive-in-women/bas...

 

PP-CPF-IDN-0027-AUG-2018