Skip directly to content

Gangguan Tidur Sleep Apnea, Picu Penyakit Jantung dan Stroke

13/06/17

 

Apakah Anda mendengkur? Atau sangat terganggu dengan suara dengkuran suami atau istri di malam hari? Jangan sepelekan ganggun tidur, yang salah satu gejalanya adalah mendengkur. Kondisi ini adalah suatu pertanda suatu gangguan kesehatan yang harus ditangani segera.

Mendengkur tidak hanya menyebalkan dan mengganggu orang yang mendengarnya, namun jika mendengkur adalah sebuah kebiasaan dan diikuti henti napas di tengah tidur, maka waspadalah akan bahaya yang lebih besar yakni penyakit kardiovaskular yang dapat berupa serangan jantung atau stroke. Kondisi ini disebut sleep apnea, atau berhenti bernapas secara berkala, sekitar 30 kali per jam selama tidur.

Data menunjukkan bahwa satu di antara 5 orang dewasa mengalami sleep apnea ringan, dan kebanyakan dialami para pria. Jenis sleep apnea yang paling umum adalah obstructive sleep apnea atau OSA, di mana ada penyumbatan jalan napas umumnya karena kegemukan.

OSA adalah faktor risiko terjadinya penyakit jantung dan stroke. Pada penderita OSA, saluran napas bagian atas tertutup karena otot-otot yang mempertahankan saluran napas agar tetap terbuka kehilangan kemampuannya. Semakin obesitas seseorang maka semakin hilang kemampuan otot ini sehingga semakin berat keparahan sleep apnea. Setiap kali saluran napas tertutup, orang tersebut akan berhenti bernapas, membuat ia kadang terbangun sesaat. Umumnya penderita akan terbangun dengan rasa lelah karena tidur yang tidak berkualitas sepanjang malam.

Kadangkala penderita sleep apnea yang hidup sendiri tidak menyadari bahwa ia menderita gangguan ini karena tidak ada yang terganggu suara dengkurannya. Untuk mendeteksi sleep apnea harus dilakukan di klinik gangguan tidur di mana ia akan dipantau sepanjang malam.

Penelitian pernah dilakukan yang menunjukkan bahwa mendengkur adalah risiko terbesar untuk stroke dan serangan jantung, bahkan lebih besar daripada merokok, obesitas dan kolesterol tinggi. Mengapa? Mendengkur dapat merusak arteri karotid, yakni pembuluh darah yang memasok darah kaya oksigen ke otak.

Dalam penelitian ditemukan pembuluh darah arteri karotid ini lebih tebal pada mereka yang mendengkur daripada yang tidak. Penebalan ini menunjukkan adanya kerusakan dinding pembuluh darah. Getaran terus menerus saat mendengkur menyebabkan cedera dan peradangan pembuluh darah. Tetapi beberapa penelitian mengatakan sebaliknya, bahwa mendengkur diawali dari pembuluh darah yang rusak, sehingga menyebabkan gangguan napas. Dinding pembuluh darah yang menebal di saluran napas inilah yang menyebabkan mendengkur. Yang jelas, kedua teori ini menegaskan bahwa ada kaitan erat antara mendengkur dengan risiko penyakit jantung dan stroke.

Oleh karena itu para ahli sepakat, orang yang memiliki gangguan tidur mendengkur dan sleep apnea sebaiknya segera mengunjungi dokter dan melakukan pencegahan sebelum terkena serangan jantung dan stroke. Pemeriksaan risiko juga mencakup pemeriksaan tekanan darah, kadar kolesterol, diabetes, dan riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular.

OSA dapat diterapi dengan pemasangan alat khusus disebut continuous positive airway pressure atau CPAP, yang digunakan setiap malam saat tidur. Alat ini akan menjaga aliran udara tetap terjaga saat tertidur. Untuk mencegah OSA, lakukan gaya hidup sehat seperti beraktivitas fisik teratur untuk menghindari kegemukan, mengurangi asupan alkohol dan berhenti merokok, dan memiliki waktu istirahat yang cukup.

 

Referensi:

http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/MyHeartandStrokeNews/Sleep-Apnea-and-Heart-Disease-Stroke_UCM_441857_Article.jsp#.WCqSp9J97cs

http://www.forbes.com/sites/melaniehaiken/2013/01/28/snoring-is-a-tip-off-to-stroke-and-heart-disease-new-research-shows/#7b2f4f9e56c1

 

PP-CPF-IDN-0038-AUG-2018