Skip directly to content

Hati-hati Mengonsumsi Antibiotik

Koran Bisnis Indonesia, 31 Januari 2016

Resistensi antimokroba menjadi kondisi yang paling menakutkan pada masa depan karena menyebabkan kematian yang paling tinggi dalam dunia kesehatan. Pada 2050, sekitar 10 juta orang diperkirakan meninggal akibat resistensi mikroba , dan 4,6 juta diantaranya terjadi di negara Asia.

Di Indonesia sendiri, angka kematian akibat kondisi tersebut diperkirakan mencapai 135.000 orang. Apa yang menyebabkan resistensi antimikroba menjadi ancaman serius? Harry Parathon, Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba Kementerian Kesehatan menjelaskan resistensi antimikroba disebabkan oleh penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan tidak sesuai dengan dosis yang tepat.

“Dalam kondisi resistensi antimikroba, antibiotik tidak lagi membunuh bakteri atau kuman penyebab penyakit sehingga menyebabkan kematian.”katanya.

Harus diakui, penggunaan antibiotik di Indonesia sangat bebas. Masyarakat bisa dengan mudah mendapatkannya di apotek atau kios tertentu tanpa resep dokter. Padahal, antibiotik adalah obat keras yang seharusnya tidak dijual bebas, dan resep dokter merupakan satu-satunya cara untuk mendapatkan obat jenis ini.

Beberapa jenis kesalahan dalam penggunaan antibiotik masyarakat antara lain dengan tidak menghabiskan obat tersebut dalam satu kali siklus pengobatan. Selain itu, masyarakat juga sering mengonsumsi antibiotik meskipun sebetulnya tidak diperlukan.

Harry menjelaskan sebenarnya, tidak semua penyakit membutuhkan antibiotik. Obat jenis ini hanya semata-mata digunakan untuk mengobati penyakit yang disebabkan oleh kuman dan bakteri. Sementara itu, untuk penyakit yang disebabkan oleh virus, seperti flu dan radang tenggorokan sebenarnya tidak memerlukan antibiotik.

Lantas bagaimana cara paling mudah untuk menentukan penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri atau bukan? Harry menuturkan biasanya, penyakit karena bakteri akan diikuti oleh demam. Namun, tidak semua demam harus diobati dengan antibiotik. Beberapa demam justru terjadi karena kekurangan atau kelebihan sel darah putih.

Dalam dunia kedokteran, antibiotik sebenarnya memiliki peranan sangat besar. Antibiotik pada dasarnya adalah segolongan molekul yang dihasilkan oleh suatu mikroba terutama fungi dan jamur yang mempunyai fungsi menekan atau mengentikan proses biokimia dalam tubuh terutama infeksi. Obat jenis ini juga termasuk langka, mengingat sejak 1987 tidak ada penemuan baru kelas antibiotik.

PENANGGULANGAN

Guna menanggulangi resistensi antimikroba, beberapa hal ini perlu dilakukan.

Pertama, jangan sembarangan mengonsumsi antibiotik, dan harus sesuai dengan resep dokter.

Kedua, jangan membeli antibiotik berdasarkan resep sebelumnya. Jika masih tersisa antibiotik, sebaiknya jangan digunakan.

Ketiga, saat berobat ke dokter sebaiknya tanyakan obat mana yang mengandung antibiotik. Pasien juga juga harus menanyakan dosis dan cara meminumnya.

‘Salah penggunaan antibiotik menyebabkan tidak efektif karena kuman bisa kebal, “katanya.

Selain itu, habiskan obat sesuai dengan anjuran. Pemberhentian antibiotik yang tidak sesuai waktu akan membuat bakteri bertahan hidup dan menyebabkan infeksi berulang.

Di Indonesia, peresepan antibiotik banyak dilakukan pada penderita infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) seperti infeksi telinga, sinusitis, radang tenggorokan, dan faringitis. Namun, biasanya dokter akan menunda peresepan antibiotik pada pasien anak.

Nah, dengan ancaman resistensi antimikroba yang kian nyata, sudah saatnya kita lebih berhati hati dalam mengonsumsi obat-obatan. Jangan pernah mengonsumsi antibiotik tanpa dosis yang tepat dari dokter.