Skip directly to content

Inilah Pemicu Kematian Pria di Usia 40 Tahun

13/06/17

 

Bagi sebagian besar kaum pria, persoalan karir, keuangan, dan tekanan dalam rumah tangga bisa menjadikan usia 40-an dan 50-an tahun ibarat roller coaster. Jika semua persoalan penting dalam hidup itu tidak dikelola dengan baik, maka hanya akan timbul stres yang diketahui merupakan faktor risiko berbagai penyakit, salah satunya penyakit jantung. Perlu diingat, saat ini penyakit jantung melanda kaum pria pada usia yang lebih muda dibandingkan pada kaum perempuan. Penyakit jantung adalah pembunuh  nomor satu untuk pria usia 45 hingga 54 tahun.

Pria diyakini lebih malas melakukan pemeriksaan kesehatan rutin dibandingkan perempuan. Seorang perempuan, sejak belum menikah bahkan sudah tidak asing dengan skrining penyakit, misalnya Pap smear untuk pencegahan kanker serviks.

Padahal usia 40 tahun adalah peringatan bahwa masalah kesehatan pada pria harus mulai diperhatikan. Banyak pria cenderung gemuk atau bertambah berat badan di usia paruh baya. Hati-hati karena obesitas adalah prediktor penyakit jantung dan diabetes. Tak hanya penyakit jantung, ada beberapa penyebab utama kematian pada laki-laki termasuk  kanker, kecelakaan, stroke, penyakit pernapasan, bunuh diri, hingga penyakit Alzheimer.

Untuk mengurangi risiko seorang pria mati muda karena berbagai penyakit tersebut, di bawah ini adalah beberapa faktor risiko yang sebisa mungkin dihindari:

Tetap  melajang

Banyak survei menunjukkan bahwa pria yang menikah, lebih sehat di usia 50-70 tahun, dan memiliki tingkat kematian lebih rendah daripada mereka yang tidak pernah menikah atau duda yang bercerai. Laki-laki tanpa pasangan tiga kali lebih berisiko meninggal akibat penyakit kardiovaskular. Setelah usia 50 tahun, kesehatan pria yang bercerai ditemukan memburuk dengan cepat dibandingkan dengan laki-laki yang menikah. Mengapa bisa terjadi? Pria yang belum menikah umumnya memiliki kebiasaan buruk bagi kesehatan. Misalnya banyak merokok, pola makan buruk, jarang pergi ke dokter, dan mudah terlibat dalam perilaku yang berisiko (narkoba dan seks bebas).

Tidak pernah ada kata terlambat. Segeralah menikah, tetapi setelah usia 25, karena hasil penelitian menunjukkan bahwa mereka yang menikah setelah usia 25 tahun cenderung hidup lebih lama daripada mereka yang menikah muda.

Kecanduan internet

Sebenarnya sampai saat ini tidak ada diagnosis tentang "gangguan kecanduan internet". Tetapi satu hal yang pasti, semakin banyak waktu yang dihabiskan di depan layar elektronik entah komputer, televisi, smartphone, tablet, game, laptop, dan elektronik lainnya, maka semakin sedikit waktu yang dihabiskan untuk kegiatan yang lebih sehat, seperti olahraga, berkomunikasi dengan alam, dan berinteraksi dengan manusia lain.

Isolasi sosial diketahui meningkatkan risiko depresi dan demensia. Dan gaya hidup sedentary ini banyak dikaitkan dengan penyakit jantung, diabetes tipe 2, obesitas, dan kematian dini. Sebuah penelitian di Australia tahun 2012 menunjukkan lebih dari 220.000 orang dewasa pada usia 45 yang duduk selama 11 jam atau lebih dalam sehari, dan mereka memiliki peningkatan risiko kematian dalam tiga tahun ke depan hingga 40%.

Diet berantakan

Pola makan yang salah berkaitan dengan penyakit jantung, diabetes, dan kanker, yang juga menjadi  penyebab utama kematian pada pria di atas usia 40 tahun. Para pria muda umumnya suka makan daging merah, junk food, dan makanan cepat saji sebagai bagian gaya hidup yang sibuk. Dampaknya adalah kelebihan berat badan, kolesterol tinggi, hipertensi, dan faktor risiko lainnya. Ketika usia meningkat, pria yang tinggal sendirian biasanya tidak asing dengan alkohol, kopi, sehingga rentan kekurangan gizi karena mereka cenderung untuk tidak menyiapkan makanan sehat bagi diri mereka sendiri.

Sampai sekitar tahun 2000, lebih banyak perempuan yang obesitas dibandingkan laki-laki. Tetapi pada tahun 2010, 35,5% persen pria mengalami obesitas, naik dari 27,5% sejak tahun 2000, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC).

Ceroboh mengemudi

Pria lebih sering mengalami kecelakaan mobil dibandingkan perempuan. Data menunjukkan laki-laki di usia 50-an dan 60-an dua kali lebih berisiko meninggal dalam kecelakaan mobil dibandingkan perempuan. Pada pria setengah baya, kecelakaan berkendara umumnya disebabkan karena  mengantuk saat mengemudi, melebihi batas kecepatan, mengemudi malam hari, atau dalam pengaruh alkohol.

Depresi yang tidak diobati

Meskipun perempuan tiga kali lebih berisiko mencoba bunuh diri daripada pria, tetapi percobaan bunuh diri pada pria umumnya lebih sukses. Data di Amerika menyatakan pada tahun 2009, 79% dari semua kasus bunuh diri yang sukses adalah laki-laki. Tingkat bunuh diri pada kaum pria melonjak setelah usia 65 tahun, atau tujuh kali lebih banyak dibandingkan  perempuan.

Lebih dari 60% kasus kematian karena bunuh diri disebabkan oleh depresi berat. Pria sering menyamakan depresi dengan "kesedihan" biasa sehingga sering gagal menyadari gejala umum depresi seperti kelelahan atau tidur berlebihan, agitasi dan gelisah, sulit berkonsentrasi, mudah marah, dan perubahan nafsu makan atau tidur.

Merokok

Tentu, semua pria di dunia tahu bahaya rokok. Tetapi semakin usia bertambah, kebiasaan merokok bukannya berkurang justru semakin menjadi. Perokok di usia lebih tua lebih berisiko mengalami kerusakan paru-paru yang lebih berat karena mereka cenderung sudah masuk kategori perokok berat.

Pria di atas 65 tahun yang merokok dua kali lebih berisiko meninggal karena stroke. Merokok adalah penyebab 90% penyakit paru obstruksi kronis (PPOK) yang merupakan penyebab kematian nomor empat pada laki-laki, dan penyebab 80-90% kanker paru. Risiko semua jenis penyakit paru akan meningkat di usia tua, apalagi pada seorang perokok.

 

Referensi:

https://www.caring.com/articles/top-health-risks-for-men-over-40

http://www.webmd.com/men/guide/simple-health-steps-men-40s-50s

 

WIDPAC0816103/08