Skip directly to content

Jangan Percaya Mitos-mitos Vasektomi

13/06/17

 

Vasektomi adalah salah satu prosedur kontrasepsi pria. Umumnya vasektomi dilakukan jika istri tidak memungkinkan melakukan kontrasepsi karena alasan tertentu. Vasektomi mencegah pelepasan sperma saat ejakulasi. Sperma dibuat di testikel dan harus melewati dua saluran yang disebut vas deferens untuk bertemu dengan cairan semen di kantong testikel. Tindakan vasektomi dilakukan dengan mengikat atau memotong saluran vas deferens sehingga saat ejakulasi hanya cairan semen saja yang dikeluarkan tanpa mengandung sperma.

Ada banyak salah pengertian atau mitos terkait tindakan vasektomi ini. Secara umum, vasektomi adalah tindakan yang aman. Meskipun begitu, layaknya prosedur kesehatan lain, selalu ada risiko. Komplikasi yang mungkin terjadi, yakni infeksi. Namun kasus infeksi paska vasektomi ditemukan lebih rendah dibandingkan tindakan bedah lainnya.

Tidak mempengaruhi libido

Beberapa pria enggan melakukan vasektomi karena takut kehidupan seksualnya akan terganggu atau kehilangan gairah seksual. Tetapi ini adalah mitos. Sebuah penelitian menemukan bahwa tindakan vasektomi justru meningkatkan kualitas hubungan seksual pasangan suami istri.

Survei yang dilakukan oleh peneliti dari Stanford University terhadap lebih dari 6.000 pria, menemukan pria yang menjalani vasektomi ternyata melakukan rutinitas hubungan seksual lebih sering dibandingkan pria yang tidak menjalani vasektomi, yakni 5,9 kali dibandingkan 4.9 kali per bulan.  

Salah satu alasannya adalah, pasangan vasektomi ini tidak takut lagi tentang isu kontrasepsi sehingga tidak ada beban melakukan hubungan seksual dibandingkan sebelum melakukan vasektomi. Meski begitu, ada sebagian pria yang menjalani vasektomi khawatir “jahitan” di testikelnya akan melukai pasangan saat berhubungan seksual.

Padahal, prosedur vasektomi hanya membutuhkan sayatan kecil di skrotum, sebagai jalan bagi vas deferens yang diangkat untuk kemudian diikat. Hanya dibutuhkan waktu tidak kurang dari 20 menit. Hubungan seksual dapat dilakukan kembali 2 minggu setelah prosedur. Vasektomi tidak mempengruhi libido sama sekali, karena faktor yang mempengaruhi libido atau gairah seksual adalah hormon testosteron sehingga tidak ada kaitannya dengan vasektomi.

Tidak menyebabkan kanker prostat

Ada juga anggapan bahwa vasektomi akan meningkatkan risiko kanker prostat. Kekhawatiran ini muncul setelah sebuah penelitian tahun 2014 menyatakan bahwa vasektomi meningkatkan risiko tumor prostat sebesar 10% dan 20% risiko kanker prostat yang fatal. Namun setelah diteliti lebih lanjut, risiko ini tidak terbukti. Untuk memastikan lagi, penelitian kembali dilakukan pada hampir 2000 pria yang menjalani vasektomi dan hanya ditemukan 50 pria yang meninggal karena kanker prostat. Tetapi angkanya hampir tidak berbeda dengan pria yang tidak menjalani vasektomi. Artinya, tidak terbukti vasektomi meningkatkan risiko kanker prostat.

 

Referensi:

http://www.foxnews.com/health/2016/11/11/vasectomies-not-linked-to-higher-prostate-cancer-risk.html

http://www.menshealth.com/sex-women/sex-life-after-vasectomy

https://www.plannedparenthood.org/learn/birth-control/vasectomy

 

WIDPAC0817126/01