Skip directly to content

Jangan Percaya Mitos Vaksin Berikut!

01/06/17

 

Dalam dua puluh tahun terakhir, jenis vaksin yang berhasil dikembangkan sudah semakin banyak jenisnya. Meskipun begitu, masih ada sekelompok orangtua yang ragu memvaksinasi anaknya karena keyakinan atau kekhawatiran tertentu. Sebagian besar orang tua tidak percaya vaksin karena khawatir tentang efek samping jangka panjang. Setelah ditelusuri melalui penelitian, ditemukan bahwa sebagian besar ketakutan terbesar tentang vaksinasi tidak berdasar. Banyak mitos tentang vaksin yang sengaja diciptakan, dan berikut ini adalah delapan mitos vaksin penting yang terbukti tidak berdasar:

Mitos # 1: Vaksin menyebabkan autisme.

Ketakutan luas bahwa vaksin meningkatkan risiko autisme berasal dari penelitian tahun 1997 oleh Andrew Wakefield, seorang ahli bedah Inggris. Artikel yang diterbitkan dalam The Lancet, sebuah jurnal kedokteran bergengsi, menyatakan bahwa vaksin campak, gondok, rubella (MMR) meningkatkan autisme pada anak-anak di Inggris.

Tetapi ternyata penelitian tersebut adalah hasil dari kesalahan prosedural serius berlatar belakang konflik kepentingan keuangan yang dirahasiakan, dan pelanggaran etika. Andrew Wakefield sendiri akhirnya kehilangan lisensi kedokterannya dan makalahnya ditarik dari The Lancet.

Namun sampai sekarang, hipotesisnya tetap dianggap serius, dan mendorong dilakukan penelitian besar untuk membuktikan. Ternyata tak satu pun dari penelitian-penelitian yang dilakukan menemukan hubungan antara vaksin dan kemungkinan autisme.

Sampai saat ini, penyebab sebenarnya dari autisme tetap menjadi misteri. Untuk menyanggah teori hubungan autisme dan vaksinasi, beberapa studi berhasil menunjukkan bahwa gejala autisme pada anak-anak juga ditemukan pada anak sebelum menerima vaksin MMR. Bahkan autisme sudah berkembang sejak di dalam rahim, jauh sebelum bayi lahir atau menerima vaksinasi.

Mitos # 2: Sistem kekebalan tubuh bayi tidak dapat menampung begitu banyak vaksin.

Sistem kekebalan tubuh bayi lebih kuat daripada yang kita pikirkan. Berdasarkan jumlah antibodi dalam darah, bayi secara teoritis akan memiliki kemampuan untuk merespon sekitar 10.000 vaksin pada satu waktu. Bahkan jika ada 14 jenis vaksin yang dijadwalkan diberi sekaligus, hanya akan menghabiskan kurang dari 0,1% dari kapasitas kekebalan bayi. Artinya, sistem kekebalan tubuh tidak pernah dapat benar-benar kewalahan karena sel-sel dalam sistem kekebalan akan terus-menerus diisi ulang. Faktanya, setiap hari bayi terpapar bakteri dan virus dari lingkungan yang tak terhitung jumlahnya, sehingga paparan imunisasi itu sangat kecil dan tidak dapat dibandingkan.

Mitos # 3: Kekebalan alami lebih aman daripada kekebalan yang didapat melalui vaksin.

Dalam beberapa kasus, kekebalan alami sering dibandingkan vaksinasi. Namun, percaya sepenuhnya pada kekebalan alami jauh lebih besar bahayanya daripada manfaatnya. Misalnya jika orangtua ingin mendapatkan kekebalan dari campak, dengan tertular penyakit tersebut, maka sebelum kekebalan terbentuk ada risiko kematian 1 berbanding 500 akibat gejala campak yang berat. Sebaliknya, jumlah anak yang memiliki reaksi alergi yang berat akibat vaksin MMR, hanya kurang dari satu di antara 1 juta yang divaksin.

Mitos # 4: Vaksin mengandung racun yang tidak aman.

Sebagian orangtua khawatir dengan penggunaan bahan-bahan seperti formalin, merkuri atau aluminium dalam vaksin. Memang benar bahwa bahan kimia ini bersifat racun bagi tubuh manusia dalam kadar tertentu. Tetapi kadarnya dalam vaksin, seperti disyaratkan Food and Drug Administration (FDA) atau badan regulatori setempat, sangat minimal agar vaksin disetujui untuk diedarkan. Bahkan, menurut FDA dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), tidak ada bukti ilmiah bahwa kadar merkuri atau aluminium dalam vaksin yang rendah dapat berbahaya.

Mitos # 5: Kebersihan dan sanitasi yang baik dapat menurunkan infeksi, tidak perlu vaksin.

Vaksin memang tidak diberikan untuk mengurangi atau menghilangkan penyakit menular. Hal ini merupakan manfaat dari sanitasi, nutrisi, dan pengembangan antibiotik yang lebih baik. Tetapi ketika faktor-faktor ini tidak dipenuhi dan meningkatkan risiko penyakit menular, maka  peran vaksin tidak bisa dipungkiri.

Salah satu contoh adalah kasus campak di Amerika Serikat. Ketika vaksin campak pertama diperkenalkan pada tahun 1963, tingkat infeksi stabil sekitar 400.000 kasus per tahun. Di saat kebiasaan higienis dan sanitasi tidak banyak berubah selama dekade berikutnya, angka infeksi campak menurun drastis setelah pengenalan vaksin, dengan hanya sekitar 25.000 kasus pada tahun 1970. Contoh lain adalah penyakit Haemophilus Influenzae tipe b (Hib). Menurut data CDC, tingkat kejadian penyakit yang bisa dicegah dengan vaksin Hib  menurun drastis dari 20.000 pada tahun 1990 menjadi sekitar 1.500 pada tahun 1993, setelah pengenalan vaksin.

Mitos # 6: Vaksin tidak sepadan dengan risikonya.

Tidak pernah ada studi yang kredibel yang menghubungkan vaksin dengan risiko kesehatan jangka panjang. Efek samping vaksin hanyalah dalam bentuk reaksi alergi atau efek samping lainnya. Kematian akibat vaksin sangat jarang ditemukan dan dapat dihitung dengan jari. Sebagai contoh, hanya pernah ada satu kematian terkait vaksin yang dilaporkan ke CDC antara tahun 1990 dan 1992. Kejadian reaksi alergi yang berat terkait vaksin secara keseluruhan adalah 1 kasus per 1-2 juta suntikan.

Mitos # 7: Vaksin untuk mencegah infeksi justru akan menyebabkan infeksi pada anak

Vaksin dapat menyebabkan gejala ringan dari penyakit yang harusnya terproteksi. Hal ini disalahartikan sebagai gejala infeksi. Bahkan, pada sebagian kecil kasus (kurang dari 1 dalam satu juta kasus) di mana gejala memang terjadi, penerima vaksin sebenarnya tengah menunjukkan respon kekebalan tubuh terhadap vaksin, dan bukan terkena penyakit itu sendiri. Di Amerika hanya ada satu kasus yang terdokumentasi, di mana vaksin menyebabkan penyakit, yaitu pemberian vaksin polio oral (OPV). Sejak itu OPV tidak digunakan lagi di AS. Secara umum, vaksin yang sudah digunakan saat ini aman karena sudah melalui uji klinis yang ketat.

Mitos # 8: Kita tidak perlu vaksinasi karena kejadian penyakit infeksi sudah menurun

Saat ini kejadian penyakit infeksi memang menurun. Semua itu berkat cakupan imunisasi yang tinggi. Jika dalam satu komunitas, satu desa misalnya, banyak anak yang diimunisasi maka sedikit anak yang tidak diimunisasi akan ikut terlindungi. Dengan begitu, penyakit menular tidak akan pernah mendapatkan kesempatan untuk berkembang dan menyebar. Tetapi jika terlalu banyak anak yang tidak divaksin, mereka berkontribusi pada bahaya kolektif, membuka peluang bagi virus dan bakteri untuk berkembang  dan menyebar.

Apalagi saat ini ketika batas negara sudah sangat tipis karena mobilitas atau perjalanan manusia di muka bumi yang tumbuh cepat, sehingga penyakit mudah keluar masuk suatu negara. Vaksin menjadi salah satu pilar besar pengobatan modern. Kita tidak tidak boleh lupa berapa banyak kematian yang sudah dapat dicegah oleh vaksin, dan bagaimana vaksin terus melindungi anak-anak kita dari penyakit-penyakit menular yang berpotensi membahayakan.

 

Referensi:

http://www.publichealth.org/public-awareness/understanding-vaccines/vaccine-myths-debunked/

http://www.cdc.gov/vaccines/parents/tools/parents-guide/parents-guide-part4.html

 

WIDPAC0816103/08