Skip directly to content

Jika Terlewat Jadwal Imunisasi

18/07/17

 

Kita patut bersyukur dengan semakin banyaknya jenis vaksin yang ditemukan untuk mencegah penyakit. Umumnya satu jenis vaksin tidak cukup diberikan dengan satu kali suntikan. Umumnya diberikan dua sampai 3 kali suntikan dengan jarak waktu tertentu, misalnya dua bulan, untuk suntikan berikutnya. Akibatnya cukup padat jadwal imunisasi yang harus dijalani. Untuk menghindari lupa, para ibu  dibekali jadwal imunisasi yang diberikan begitu ibu melahirkan.

Imunisasi pertama, yaitu hepatitis dan polio I, umumnya diberikan segera setelah bayi lahir di klinik, puskesmas, atau rumah sakit. Setelah itu orangtua lah yang harus datang ke pelayanan kesehatan dalam rentang waktu tertentu untuk imunisasi sesuai jadwal, sampai dinyatakan lengkap. 

Ada kalanya jadwal imunisasi terlewatkan atau terpaksa terlewat karena berbagai alasan, misalnya si Kecil demam atau sakit saat jadwal imunisasi tiba, pindah rumah, atau si ibu memang benar-benar lupa. Melewatkan dosis imunisasi tentu tidak diharapkan karena dapat mempengaruhi cakupan imunisasi yang diprogramkan pemerintah. Imunisasi akan efektif jika seluruh bayi melakukan imunisasi atau cakupan imunisasi lebih dari 90 persen. Pemberian vaksin tertentu juga perlu diulang atau booster, umumnya saat anak memasuki usia sekolah.

Tidak perlu khawatir jika ada jadwal imunisasi yang terlewat karena dapat dilakukan ‘catch-up’  atau disusulkan. Idealnya, rencana catch-up imunisasi dilakukan berdasarkan catatan riwayat imunisasi yang sudah dilakukan. Setiap imunisasi biasanya dicatat di buku imunisasi sehingga jika ada dosis terlewat akan terlihat. Tetapi bisa jadi karena pindah rumah atau bencana, buku imunisasi hilang sehingga tidak ada catatan riwayat imunisasi sebelumnya. Jika ini yang terjadi, maka langkah yang dapat dilakukan adalah:

  • Menelusuri ke pusat pelayanan kesehatan di mana anak Anda biasa diimunisasi untuk melihat catatan imunisasi apa saja yang sudah diberikan dan waktu pelaksanaan imunisasi.
  • Selanjutnya dokter yang akan merencanakan jadwal catch up sesuai usia si Kecil. Rencana pemberian vaksin bermacam-macam, bisa dipersingkat jarak antara pemberian vaksin, atau vaksin diberikan sekaligus di waktu yang sama jika ada vaksin yang terlewat lebih dari satu jenis.
  • Ada beberapa vaksin yang meskipun terlewat tidak akan efektif untuk diberikan catch up. Misalnya vaksin hib (Haemophilus influenzae type B) di mana vaksin tidak akan efektif jika anak sudah berusia di atas 5 tahun.

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan saat melakukan catch up, sebaiknya aturan umum imunisasi dipatuhi, seperti halnya imunisasi rutin. Pastikan anak dalam kondisi sehat dan tidak demam (suhu tubuh si Kecil lebih dari 38oC), informasikan pada dokter jika ada riwayat alergi pada vaksin sebelumnya, vaksin apa saja pernah diberikan, atau penyakit yang diderita si Kecil jika ada.

Catch up imunisasi tidak hanya direkomendasikan pada anak yang terlewat dosisnya, tetapi juga pada orangtua yang tidak yakin apakah sudah melakukan jadwal imunisasi pada si Kecil dengan lengkap. Untuk kasus terakhir, akan ada peluang di Kecil diimunisasi dua kali. Tetapi jangan khawatir, umumnya tidak ada efek samping akibat kelebihan dosis vaksinasi, terutama untuk vaksin hepatitis B, meningitis, cacar air, MMR, dan polio.

Kelebihan dosis vaksin yang dapat menimbulkan efek samping secara lokal (bengkak dan kemerahan pada area bekas suntikan) kemungkinan terjadi pada pemberian vaksin difteri (DPT), tetanus dan vaksin pneukokokus.

 

Referensi:

http://www.immunise.health.gov.au/internet/immunise/publishing.nsf/Content/schedule-splitting-and-catchup-doses

https://www.betterhealth.vic.gov.au/health/healthyliving/immunisations-catch-ups-and-boosters

 

PP-CPF-IDN-0067-AUG-2018