Skip directly to content

Kanker Paru Tidak Hanya Menyerang Perokok

13/06/17

 

Saat ini kanker paru menjadi salah satu jenis kanker paling umum di seluruh dunia. Angka kematian akibat kanker paru pada perempuan jauh lebih banyak dibandingkan gabungan kematian akibat kanker payudara, kanker ovarium dan kanker rahim.

Selama ini kanker paru selalu dikaitkan dengan perokok. Hal ini tidak salah karena hampir 90% penderita kanker paru memiliki riwayat merokok. Tetapi non perokok tidak lantas mengabaikan kemungkinan-kemungkinan terkena kanker organ pernapasan ini. Data menunjukkan, sekitar 10% kasus baru dari kanker paru yang terdeteksi setiap tahun di Amerika Serikat, adalah mereka yang seumur hidupnya tidak pernah merokok.

Menurut National Center for Biotechnology Information dan American Cancer Society, jika kasus kanker paru pada non perokok dimasukkan sebagai jenis kanker tersendiri, maka ia akan masuk dalam 10 besar kanker paling mematikan. Sayangnya karena selama ini ada persepsi bahwa merokok adalah satu-satunya penyebab kanker paru, maka banyak orang yang kurang waspada dan mengabaikan gejala-gejalanya.

Kanker paru pada bukan perokok, diduga disebabkan paparan radiasi zat kimia berbahaya, atau polusi udara. American Lung Association memperkirakan sekitar 10% kasus kanker paru di Amerika disebabkan paparan gas radon. Penelitian juga terus mencari semua faktor yang kemungkinan dapat menjadi pemicu kanker paru. Misalnya secondhand smoke atau perokok pasif, polusi udara, paparan asbes dan bahan kimia lain. Penelitian juga tengah mendalami apakah ada faktor penyakit ini diwariskan di keluarga melalui penelitian genetika.

Umumnya penderita kanker paru yang seumur hidupnya tidak pernah merokok akan syok bahkan tidak percaya ketika divonis menderita kanker paru. Hal ini membuktikan bahwa sosialisasi tentang kanker paru dapat menyerang siapa saja, baik perokok maupun non perokok, belum dipahami ke semua lapisan masyarakat bahkan di negara maju sekalipun.  

Jika terdiagnosis di tahap awal, kanker paru sangat mungkin disembuhkan. Namun hanya 16% yang terdeteksi di stadium 1, yakni ketika tumor masih berukuran diameter 7-8 milimeter, yang akan sulit ditemukan sebagai massa yang mencurigakan tumbuh di organ paru.  Selain itu kanker di tahap awal tidak menimbulkan gejala. 

Paling sering, kanker ditemukan ketika ukurannya sudah membesar dan menimbulkan gejala misalnya kesulitan bernapas karena massa tumor sudah menekan paru, atau batuk yang tidak kunjung sembuh. Yang lebih menyesakkan, di stadium lanjut kanker paru sudah pasti menyebar ke organ lain seperti tulang belakang atau otak sehingga gejala yang ditimbulkan lebih berat. 

Para ahli sepakat, semua orang hendaknya melakukan skrining sebagai langkah awal menemukan kanker paru sedini mungkin. Caranya cukup dengan pemeriksaan foto dada (rontgen) rutin. Begitu merasakan napas sesak, batuk yang tidak kunjung sembuh sampai 2-3 minggu, tidak ada salahnya melakukan cek up pada organ paru. 

Tidak perlu putus asa ketika kanker paru terdeteksi di tahap dini. Saat ini temuan obat-obatan baru untuk kanker paru semakin baik. Bahkan penelitian tidak sebatas pada menemukan obat atau mencari faktor penyebab kanker paru, namun sudah sampai pada memprediksi angka harapan hidup kanker paru dengan menemukan gen-gen yang berperan dalam kanker paru.

Tetapi langkah yang paling bijaksana selain deteksi dini adalah melakukan pencegahan dengan cara tidak merokok, menjauhi asap rokok, dan sebisa mungkin menghindari lingkungan kerja yang dekat dengan paparan zat kimia. Selain itu melakukan gaya hidup sehat.  

 

Referensi:
http://lancasteronline.com/features/together/lung-cancer-doesn-t-target-...
http://www.medicaldaily.com/lung-cancer-survival-rate-new-tool-helps-pre...
http://www.foxnews.com/health/2016/12/03/lung-cancer-symptoms-even-non-s...

PP-CPF-IDN-0036-AUG-2018