Skip directly to content

Menangani Amarah Baik untuk Kesehatan Mental

13/06/17

 

Tahukan Anda bahwa marah adalah jenis emosi yang paling kuat. Tetapi marah tidak selalu dikonotasikan buruk, karena dapat menjadi alat yang berguna untuk bertahan hidup di masyarakat. Bayangkan saja jika ada orang yang seumur hidup tidak pernah marah meskipun dalam kondisi tertindas? Tetapi amarah yang berlebihan dan menetap akan sangat merugikan dan menyebabkan kerusakan di sekitarnya. Hal ini karena marah dapat mempengaruhi langsung pikiran, perasaan dan perilaku seseorang.

Amarah memiliki tiga komponen yaitu fisik, kognitif, dan perilaku. Seseorang yang tengah marah umumnya mengalami gejala perubahan fisik berupa peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan otot-otot seluruh tubuh menegang. Aspek kedua adalah nalar atau kognitif. Pengalaman kognitif kemarahan adalah bagaimana kita berpikir dan mengetahui apa yang membuat kita marah. Sedangkan dari aspek perilaku adalah apa yang terjadi saat marah berupa suara meninggi, membanting pintu, atau mengamuk.

Marah dapat dipicu suatu peristiwa atau memang bagian dari karakter individu. Ada orang yang memiliki kepribadian memang pemarah meskipun tidak dipicu kejadian yang berarti. Dapat dikatakan orang seperti ini memiliki ambang batas kemarahan yang rendah atau gampang “naik darah” hanya karena masalah sepele.

Karena dampak amarah yang cenderung merusak, maka ada teknik-teknik pengendalian amarah yang dapat dilakukan, antara lain dengan bernapas dalam dan perlahan ketika marah datang, berhitung 1-10 sebelum bereaksi, atau mencoba mendengarkan musik yang menenangkan dan melakukan meditasi atau yoga.

Manajemen amarah

Langkah-langkah menenangkan diri bersifat jangka pendek. Tetapi untuk pribadi yang memang tidak dapat mengendalikan kemarahan terus menerus, dapat melakukan manajemen amarah (anger management) dengan bantuan ahli. Manajemen amarah meliputi latihan bagaimana mengenali tanda-tanda ketika kemarahan datang dan bagaimana belajar mengendalikan kemarahan dengan melakukan tindakan-tindakan yang positif. Dalam manajemen amarah, tidak diajarkan cara menghindari atau menahan amarah karena kemarahan adalah emosi yang normal dan justru harus diekspresikan.

Mempelajari manajemen amarah dapat dilakukan sendiri dengan panduan buku atau melalui  video. Tetapi pada sebagian besar orang, manajemen amarah dilakukan sebagai salah satu kelas di bawah panduan ahli kesehatan jiwa.

Siapa saja yang membutuhkan pelatihan manajemen amarah? Berikut ini adalah beberapa tanda seseorang memiliki masalah dan sebaiknya melakukan sesi manajemen amarah, siapa tahu Anda salah satu di antaranya:

  • Mereka yang selalu menahan amarahnya
  • Selalu sinis, mudah tersinggung, tidak sabar, atau terlalu kritis.
  • Hampir setiap saat adu argumen dengan pasangan, teman kerja, anak yang berujung pada rasa frustasi.
  • Melakukan kekerasan fisik baik pada pasangan maupun anak, dan mudah sekali memulai perkelahian.
  • Melakukan ancaman pada orang atau merusak benda-benda
  • Tidak dapat mengendalikan perilaku yang menakutkan seperti memecahkan sesuatu atau menyetir dengan sembarangan.
  • Cemas atau depresi karena takut menjadi marah sehingga mengisolasi diri.

Jika Anda salah satu di antaranya, maka segera menemui psikiatri untuk melakukan konselingUmumnya kelas manajemen amarah dapat dilakukan perorangan atau dalam satu kelompok, bahkan dengan pasangan dan anak-anak. Tujuannya adalah bagaimana seseorang dapat mengenali pemicu kemarahan, melampiaskan marah dengan cara yang sehat, dan melatih kemampuan komunikasi dengan orang lain.

 

Referensi:

http://www.mayoclinic.org/tests-procedures/anger-management/basics/definition/PRC-20014603?p=1

https://www.mentalhealth.org.uk/a-to-z/a/anger

 

PP-CPF-IDN-0084-AUG-2018