Skip directly to content

Mengapa Penanggulangan Resistensi Antimikroba Penting

20/12/19

Mengapa Penanggulangan Resistensi Antimikroba Penting

Pakar dan Pejabat Kementerian Kesehatan Membahas Langkah Bersama Mengatasi Ancaman Resistensi Antimikroba dan Dampaknya di Indonesia

Jakarta, 19 Desember 2019 – Pfizer Indonesia bekerjasama dengan Business Council for International Understanding (BCIU) menyelenggarakan forum tingkat-tinggi untuk membahas Antimicrobial Resistance atau Resistensi Antimikroba (AMR) sebagai masalah kesehatan global serta dampaknya di Indonesia dan Asia Tenggara. Forum ini dihadiri oleh sejumlah pejabat dari Kementerian Kesehatan, ahli kesehatan terkemuka dari berbagai institusi, yang menyadari bahwa AMR adalah tantangan yang berkembang dan kolaborasi semua pihak menjadi kunci bagi terciptanya solusi berkelanjutan dalam mengatasi ancaman AMR.

Pembahasan dalam Forum ini menyoroti keberhasilan dan tantangan dari implementasi pendekatan penanggulangan AMR selama ini.

AMR merupakan permasalahan global yang semakin berkembang dengan munculnya patogen ESBL-producing bacteria dan CRE.[i] Pada tahun 2050, diperkirakan lebih dari 4,7 juta orang di Asia Pasifik meninggal setiap tahunnya karena infeksi yang sebelumnya dapat disembuhkan oleh antibiotik, dan hal ini merupakan angka kematian tertinggi yang diproyeksikan secara global.[ii] Faktor-faktor unik yang melatarbelakangi kondisi ini di Asia Pasifik (diantaranya kondisi lingkungan, sosio-ekonomi, pertanian, geografis dan demografis) berarti bahwa kawasan ini merupakan pusat permasalahan AMR yang berdampak pada sistem kesehatan.[iii] [iv] Sebagai kawasan hunian bagi 60% populasi dunia, banyak negara berpenghasilan rendah-menengah di kawasan ini ditengarai menerapkan kebijakan kesehatan yang memerlukan penguatan, dan antibiotik seringkali diperoleh dengan mudah.[v]

Dengan populasi sekitar 260 juta jiwa, Indonesia merupakan negara dengan populasi terbanyak ke-4 di dunia.[vi] Indonesia tercatat sebagai negara dengan tingkat resistensi tertinggi terhadap Imipenem yaitu sebanyak 6% di antara negara-negara Asia lainnya.[vii] Berdasarkan Survei Kesehatan Nasional 2013, sekitar 86% antibiotik di Indonesia disimpan tanpa resep dokter.[viii]

Dalam forum ini, peserta membahas penggunaan antibiotik secara rasional pada berbagai tahap infeksi dan bagaimana meningkatkan pengaturan klinis terhadap antibiotik baru yang sudah disetujui.

Pfizer memahami urgensi untuk bertindak sekarang, juga pentingnya untuk melakukan langkah-langkah spesifik dengan memanfaatkan potensi yang ada serta pengetahuan dalam menangani AMR. Berbekal pengalamannya yang luas dalam anti-infeksi dan vaksin, Pfizer terus menjalin kemitraan untuk membangun dan memperluas kemampuan patologi dan kapabilitas medis, meningkatkan pengumpulan dan penggunaan data, untuk mengatasi ancaman AMR di Indonesia. Tahun 2018, Pfizer berkontribusi pada peluncuran Panduan Praktik Klinis tentang Complicated Intra-Abdominal Infection: dari Perspektif Indonesia. Ini merupakan pedoman nasional pertama yang dikembangkan melalui kemitraan dengan 5 asosiasi medis.

Anil Argilla, Presiden Direktur PT Pfizer Indonesia, menekankan pentingnya kemitraan publik dan swasta untuk membangun kesadaran masyarakat dan menyatakan bahwa kolaborasi merupakan hal yang sangat penting dalam memerangi ancaman AMR yang semakin meningkat.

Anil mengatakan, “Kami mendukung upaya pemerintah untuk mengembangkan materi sosialisasi panduan Antibiotic Stewardship Program (ASP) bersama dengan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan RI dan asosiasi medis terkait. Tahun depan, kami akan mendukung pelatihan dan lokakarya-lokakarya tentang implementasi Program Antimicrobial Stewardship di lebih dari 30 rumah sakit di seluruh Indonesia.”

Sebelumnya pada Oktober tahun ini, Kelompok Kerja Gabungan Antimicrobial Stewardship  KTT Penanggulangan AMR Asia Pasifik yang terdiri dari para ahli mikrobiologi klinis, pengendalian infeksi, penyakit menular dan perawatan kritis se-Asia Pasifik menyusun rencana kerja yang dapat ditindaklanjuti dalam memberdayakan peran pemerintah, manajemen rumah sakit, tenaga kesehatan dan masyarakat luas untuk mengatasi epidemik ini di seluruh wilayah Asia Pasifik. Rencana kerja ini mencakupinisiatif-inisiatif khusus seperti pengembangan materi AMS Blueprint pertama di kawasan ini dan pelaksanaan pelatihan khusus pengendalian resistensi antimikroba untuk rumah sakit dengan sumber daya yang terbatas.

 

***

Tentang BCIU

Business Council for International Understanding (BCIU) merupakan organisasi independen berkantor pusat di AS yang membantu anggotanya memperluas kerjasama perdagangan internasional. Organisasi ini membantu perusahaan anggotanya berperan aktif secara internasional dan memfasilitasi hubungan yang saling menguntungkan antara para pemimpin bisnis dan pemerintahan di seluruh dunia.

Dengan 200 anggota perusahaan (termasuk Pfizer), dan perusahaan-perusahaan besar lainnya dalam kategori Fortune 500, BCIU memberikan wawasan strategis, koneksi global dan layanan penting agar perusahaan dapat mewujudkan peluang pertumbuhan global. Organisasi ini juga memfasilitasi para pejabat pemerintah untuk berinteraksi dengan perusahaan multinasional dalam forum yang mempromosikan perdagangan internasional dan investasi.

Didirikan sebagai inisiatif Gedung Putih oleh Presiden Dwight D. Eisenhower, BCIU memiliki hubungan erat dan terpercaya dengan pemerintah AS, dan selama bertahun-tahun telah membangun hubungan yang kuat dengan berbagai kalangan pemerintah dan lembaga multilateral. Organisasi ini memanfaatkan pengetahuan global dan jaringan bisnis dan jejaring pemerintah yang luas untuk memfasilitasi dialog dan inisiatif yang memperluas perdagangan internasional dan mendorong pembangunan ekonomi di seluruh dunia.

Tentang Pfizer: Terobosan yang Mengubah Kehidupan Pasien

Di Pfizer, kami mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan sumber daya global untuk meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di setiap tahap kehidupan. Kami berjuang untuk menetapkan standar untuk kualitas, keamanan dan nilai dalam pengembangan, penemuan dan pembuatan produk-produk kesehatan. Portofolio global kami, termasuk obat-obatan dan vaksin, serta masih banyak lagi produk perawatan kesehatan lainnya yang sudah terkenal di dunia. Setiap hari, para kolega Pfizer bekerja di negara maju dan berkembang untuk memajukan kesehatan, pencegahan, perawatan dan pengobatan untuk mengatasi berbagai penyakit yang paling ditakuti di masa kini. Sejalan dengan tanggung jawab kami sebagai salah satu perusahaan biofarmasi inovatif terkemuka di dunia, kami juga bekerja sama dengan para penyedia layanan kesehatan, pemerintah dan komunitas lokal untuk mendukung dan memperluas akses ke perawatan kesehatan yang handal dan terjangkau di seluruh dunia. Selama lebih dari 150 tahun, Pfizer telah bekerja untuk membuat perbedaan bagi semua orang yang mengandalkan kami. 

Kami secara rutin mempublikasikan informasi yang penting bagi investor di situs web kami di www.Pfizer.com.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi kami di www.Pfizer.com
PT Pfizer Indonesia
28th Floor World Trade Center 3
Jl. Jend. Sudirman Kav.29-31,
Jakarta 12920, Indonesia
P.O. BOX 1998 JKP 10019
Telp: +62-21-8086 1400
 
Untuk Pertanyaan Media, Hubungi:

 

Referensi
 
[i] Xu Y, Gu B, Huang M, Liu H, Xu T, Xia W, Wang T. Epidemiology of carbapenem resistant Enterobacteriaceae (CRE) during 2000-2012 in Asia. J Thorac Dis. 2015. Mar;7(3):376-85. doi:10.3978/j.issn.2072-1439.2014.12.33. PubMed PMID: 25922715; PubMed Central PMCID: PMC4387446.
Al-Dhaheri AS, Al-Niyadi MS, Al-Dhaheri AD, et al. Resistance patterns of bacterial isolates to antimicrobials from 3 hospitals in the United Arab Emirates. Saudi Med J 2009;30:618-23.
Khorasani G, Salehifar E, Eslami G. Profile of microorganisms and antimicrobial resistance at a tertiary care referral burn centre in Iran: emergence of Citrobacter freundii as a common microorganism. Burns 2008;34:947-52.
[ii] Review on Antimicrobial Resistance. Antimicrobial Resistance: Tackling a Crisis for the Health and Wealth of Nations. 2014. Available at: www.amr-review.org/Publications.html. Accessed October 2019.
[iii] Kang C-I, Song J-H. Antimicrobial resistance in Asia: current epidemiology and clinical implications. Infect Chemother 2013; 45:22–31.
[iv] Lai C-C, Lee K, Xiao Y, et al. High burden of antimicrobial drug resistance in Asia. J Glob Antimicrob Resist 2014; 2:141–147.
[v] Hsu L-Y, Apisarnthanarak A, Khan E, et al. Carbapenem-resistant Acinetobacter baumannii and Enterobacteriaceae in South and Southeast Asia. Clin Microbiol Rev2017;30:1–22.
[vi] Populasi Indonesia - Penduduk - Demografi & Potensi Ekonomi | Indonesia Investments [Internet]. Indonesia-investments.com. 2019 [cited 17 December 2019]. Available from: https://www.indonesia-investments.com/id/budaya/penduduk/item67
[vii] Xu Y, Gu B, Huang M, Liu H, Xu T, Xia W, Wang T. Epidemiology of carbapenem resistant Enterobacteriaceae (CRE) during 2000-2012 in Asia. J Thorac Dis. 2015. Mar;7(3):376-85.
[viii] Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. Kementerian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar 2013 page vi