Skip directly to content

Mengenal Psikoterapi untuk Gangguan Mental

13/06/17

 

Pernahkan Anda mendengar psikoterapi? Psikoterapi sering diberikan sebagai pendukung terapi obat-obatan pada penderita gangguan jiwa. Psikoterapi sering dipahami sebagai “terapi berbicara” karena tujuannya memang mengajak penderita gangguan jiwa untuk mengeluarkan apa yang dirasakan dan menuntun agar ia memahami penyakitnya. Psikoterapi dapat memperbaiki gejala dan mengembalikan fungsi hidup penderita gangguan jiwa.

Bahkan kadangkala penderita dapat pulih hanya dengan psikoterapi, tanpa dibantu obat-obatan, tergantung keparahan penyakitnya. Tetapi biasanya, psikoterapi harus dibantu dengan obat-obatan untuk mempercepat penyembuhan.

Ada banyak jenis psikoterapi, karena masing-masing pasien memiliki kebutuhan terapi yang berbeda. Jadi tidak ada satupun jenis psikoterapi yang cocok untuk semua pasien.  Inilah beberapa jenis psikoterapi :

Cognitive Behavioral Therapy

Cognitive behavioral therapy (CBT) merupakan gabungan antara terapi kognitif dan terapi perilaku. Terapi kognitif pertama kali dikenalkan oleh ahli psikoterapi Dr Aaron Beck, di tahun 60-an. Terapi kognitif fokus menyasar pada pemikiran-pemikiran dan kepercayaan pasien. Dua hal ini seringkali berpengaruh sangat kuat pada mood, keinginan, dan perilaku pasien. Dengan mengubah pemikiran pasien, pasien dapat lebih adaptif yang berpengaruh pada perilaku. Sedangkan terapi perilaku fokus pada mengubah perilaku pasien yang dirasa menyimpang.

CBT ini dapat diterapkan untuk berbagai gangguan jiwa, mulai dari depresi, gangguan kecemasan, bipolar, gangguan makan, sampai skizofrenia. Misalnya, untuk gangguan kecemasan, CBT akan membuat pasien lebih adaptif sehingga dapat mengatasi ketakutan yang berlebihan. Bahkan untuk kasus berat seperti skizofrenia, CBT dampat bermanfaat, meskipun harus digunakan pula obat-obatan antipsikotik.

Dialectical Behavior Therapy

Dialectical behavior therapy (DBT), adalah salah satu bentuk dari CBT, yang dikembangkan oleh dr. Marsha Linehan, Ph.D. Awalnya terapi ini digunakan untuk orang-orang yang memiliki kecenderungan bunuh diri termasuk mengobati gangguan borderline personality disorder (BPD) yaitu gangguan mental dengan kecenderungan bunuh diri lebih tinggi.

Kata “dialektikal” mengacu pada filosofi perdebatan dua paham yang bertolak belakang sampai ditemukan keseimbangan di antara dua paham yang sangat ekstrim. Untuk gangguan jiwa, terapis akan meyakinkan pasien bahwa tindakan atau keinginan mereka bunuh diri adalah valid dan dapat dimengerti. Tetapi di saat yang sama, terapis akan melatih pasien memahami bahwa pasien sendirilah yang bertanggungjawab untuk mengubah perilaku mereka. Terapi ini membutuhkan hubungan yang kuat dan setara antara pasien dan terapis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa DBT efektif mengatasi gangguan BPD, di mana percobaan bunuh diri menurun hampir separuhnya dibandingkan terapi jenis lain untuk penderita BPD.

Interpersonal Therapy

Interpersonal therapy (IPT) adalah jenis psikoterapi yang paling sering digunakan untuk mengatasi distemia (depresi yang persisten namun tidak begitu berat). IPT mulai dikenalkan tahun 1980-an oleh dr. Gerald Klerman, dan dr. Myrna Weissman. Pada dasarnya terapi ini mengedepankan komunikasi antar individu sehingga efektif menekan depresi. IPT membantu penderita berinteraksi dengan orang lain. Jika masalahnya adalah perilaku, maka terapis akan membantu mengubah perilaku pasien. Intinya IPT membantu pasien mengidentifikasi masalah emosi dan apa yang memicunya.

Family-focused Therapy

Family-focused therapy (FFT) dikembangkan dr. David Miklowitz dan dr. Michael Goldstein, Ph.D., untuk mengobati gangguan bipolar. Terapi ini meyakini bahwa keluarga memegang peran penting dalam kesembuhan pasien, sehingga anggota keluarga disertakan dalam satu sesi terapi. Diharapkan masalah, konflik, dan kesulitan-kesulitan dalam keluarga yang dapat memperberat kondisi pasien bipolar dalam diatasi.  Anggota keluarga diajarkan bagaimana berkomunikasi dengan penderita dengan cara lebih baik. Penelitian menunjukkan FFT ini efektif membantu pasien menjadi lebih stabil dan mencegah kekambuhan.

 

Referensi:

https://www.nimh.nih.gov/health/topics/psychotherapies/index.shtml

http://www.webmd.com/anxiety-panic/guide/mental-health-psychotherapy

 

WIDPAC0817127/01