Skip directly to content

Pemahaman Mengenai Disfungsi Ereksi

13/02/20

PEMAHAMAN MENGENAI DISFUNGSI EREKSI

 

Oleh: Dr. Heru H. Oentoeng, MRepro, SpAnd-K, FECSM

 

Banyak pria yang khawatir bahkan ketakutan terkena disfungsi ereksi ini. Pemahaman yang benar akan membantu para pria itu mengerti permasalahan yang ada sehingga bisa menuntaskan masalahnya dan nantinya tidak terjerumus ke pengobatan-pengobatan yang tidak ilmiah yang banyak ditawarkan di media massa, ataupun menjadi korban mitos-mitos tentang pengobatan dan iklan-iklan menyesatkan tentang disfungsi ereksi.

Apa itu Disfungsi Ereksi? Disfungsi Ereksi (DE) adalah suatu ketidakmampuan mencapai atau mempertahankan kekerasan ereksi penis yang memadai untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan1. Mengapa DE ini penting? Karena DE merupakan salah satu gejala awal penyakit pembuluh darah dan dapat menjadi pertanda ada suatu penyakit yang serius di dalam tubuh yang bisa mengakibatkan suatu kondisi yang fatal2, 3. Kondisi DE ini juga berhubungan dengan kondisi psikologis dan gangguan hubungan interpersonal4.

Di dunia, DE memberi dampak kepada sekitar 13-28% pria usia 40-80 tahun5, dan di Amerika sendiri, prevalensinya diperkirakan sekitar 22% pada pria usia lebih dari 40 tahun6. Prevalensi DE diperkirakan meningkat terus sampai melebihi 300 juta pria di tahun 20257. Di Indonesia sendiri memang belum ada data pasti mengenai prevalensi DE pada pria Indonesia, tetapi pola prevalensi mungkin tidak banyak berbeda dengan yang ada di dunia. DE tidak hanya terjadi pada pria usia di atas 40 tahun seperti statistik di atas, DE bisa terjadi pada pria usia muda juga.

Penyebab DE bisa karena faktor organik, faktor psikogenik dan kombinasi antara kedua faktor tersebut. Penyebab dari faktor organik seperti: kerusakan atau disfungsi lapisan endotel pembuluh darah (dapat disebabkan oleh hipertensi dan tingginya kadar kolesterol dalam darah), diabetes mellitus, kerusakan saraf yang berperan dalam proses terjadinya ereksi (termasuk yang disebabkan oleh tindakan operasi pada kasus penyakit tertentu), konsumsi obat-obatan tertentu, serta gangguan hormonal. Penyebab faktor psikogenik contohnya: kecemasan, depresi, konflik dalam hubungan, stres di tempat kerja, stress di rumah dan kekhawatiran terhadap performa seksual yang buruk. Beberapa penyakit di atas bisa meningkatkan kemungkinan kejadian DE dibanding yang tidak mengalaminya di usia yang sama8, 9, 10.

Cara gampang untuk menilai kemampuan ereksi bisa dipakai Erection Hardness Score (EHS) selain International Index of Erectile Function - 5 (IIEF-5) yang sedikit lebih rumit. Pada kehidupan seksual sehari-hari kita bisa menilai kekerasan ereksi dengan EHS, dengan penjelasan sebagai berikut: EHS 1 = penis membesar namun tidak keras, EHS 2 = penis mengeras tetapi tidak cukup keras untuk melakukan penetrasi, EHS 3 = penis cukup keras untuk melakukan penetrasi namun tidak sepenuhnya keras, dan EHS 4 = penis keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya11.

Asia Pacific Sexual Health & Overall Wellness Survey mendapatkan hasil survei tentang kepuasan terhadap kekerasan ereksi berhubungan dengan kepuasan seksual, romansa, prioritas hidup dan kesehatan secara menyeluruh12. Pria dengan ereksi yang suboptimal seperti pada EHS 3, biasanya kurang puas dengan hubungan dan pengalaman seksualnya13. Berdasarkan hasil studi, perubahan kekerasan ereksi dari EHS 3 ke EHS 4 menunjukkan peningkatan kepuasan performa seksual, hubungan pribadi, dan kesehatan emosional11.

DE dapat berdampak negatif pada kualitas hidup seorang pria. Kualitas hidup tersebut melibatkan kesehatan fisik dan kesehatan psikologis. Setiap pria yang mengalami DE dapat menyikapi kondisi tersebut dengan berbeda14. Penelusuran faktor penyebab baik itu faktor organik dan faktor psikogenik harus segera dilakukan oleh dokter yang kompeten di bidang seksualitas, dan penanganan secara komprehensif serta ilmiah harus dilakukan untuk menolong pria dengan kondisi DE tersebut.

Pria dengan ereksi suboptimal tentu menginginkan kembalinya ereksi yang sepenuhnya keras, tegang, dan dapat bertahan lama untuk memuaskan pasangannya, sehingga pria tersebut juga mendapatkan kepuasan dan pulihnya rasa percaya diri. Namun demikian, berdasarkan fakta yang diperoleh dari sebuah studi, 96% masyarakat Indonesia yang memiliki masalah seksual tidak berupaya mencari pertolongan medis15. Padahal DE merupakan suatu kondisi yang dapat ditangani secara medis.

Bila seorang pria mengalami suatu kondisi DE ringan, sedang sampai berat pada kehidupan seksualnya, sebaiknya segera mendiskusikannya secara terbuka dengan dokter yang kompeten, demi mendapatkan evaluasi menyeluruh secara ilmiah. Semakin awal evaluasi tentu akan semakin baik, mengingat bahwa DE merupakan ‘jendela’ untuk menelusuri apakah ada risiko gangguan atau penyakit yang lebih serius yang akan terjadi, sehingga kejadian fatal di kemudian hari bisa dicegah lebih awal dan kualitas hidup tidak terlanjur menurun gara-gara penyakit tersebut. Pasangan sebaiknya dilibatkan dalam diskusi itu, karena masalah DE pria pasti berdampak pada pasangannya, dan dukungan pasangan dalam rangkaian pengobatan akan mempercepat pemulihan masalah tersebut.

Masalah yang dihadapi dalam mencari solusi terhadap DE cukup banyak. Kurangnya paparan informasi ilmiah tentang DE kepada tenaga kesehatan, artikel-artikel yang tidak ada dasar ilmiahnya termasuk mitos-mitos yang beredar di masyarakat, iklan-iklan yang menyesatkan, pemilihan obat yang kurang tepat karena ketidakmengertian tentang khasiat obat, obat palsu, obat herbal abal-abal, dan banyak masalah lain yang bisa menjerumuskan pria dengan DE itu ke masalah yang lebih besar. Tentunya penanganan secara medis ilmiah yang benar serta pemilihan obat yang tepat yang diharapkan untuk menuntaskan masalah DE yang dialami itu.

Penatalaksanaan DE harus dilakukan secara komprehensif, dimana pemberian edukasi seksual yang tepat, perubahan gaya hidup, dan penanganan faktor penyebab menjadi dasar pengobatan DE9. Pemberian pengobatan DE lini pertama yaitu obat golongan Phosphodiesterase-5 Inhibitor (PDE-5I) akan sangat membantu dan bersamaan dilakukan konseling serta terapi seksual, pemakaian pompa vakum penis juga boleh dicoba untuk membantu. Pemilihan obat golongan PDE5-I tentu harus disesuaikan dengan kondisi pasien, baik itu kondisi fisik tertentu yang mempengaruhi, ritme kehidupan seksualnya dan terutama harapan pasien untuk pemulihan kehidupan seksual dalam pernikahannya. Bila lini pertama tidak menuntaskan masalah maka diberikan lini kedua yaitu obat yang dimasukkan ke dalam uretra atau disuntikkan langsung ke penis untuk memacu aliran darah penis. Bila lini pertama dan kedua gagal serta kondisi penyakit yang menjadi faktor penyebab tidak bisa dikoreksi maka dipertimbangkan lini ketiga yaitu pemasangan protesis penis9, 10.

Beberapa temuan baru seperti Low Intensity Shock Wave Treatment (LiSWT)16, dan stem-cell untuk peremajaan penis17 masih dalam tahap penelitian, dengan pro dan kontra terhadap efektifitas modalitas terapi tersebut, sehingga belum dipakai sebagai panduan pengobatan secara klinis sehari-hari. Tentunya modalitas terapi baru ini belum bisa menggantikan pengobatan lini pertama obat oral PDE5-I dalam penanganan DE, tetapi bisa menjadi pengobatan tambahan yang dilakukan bersama-sama untuk mencapai tujuan pemulihan pria dengan masalah DE.

 

 

Referensi:

  1. NIH Consensus Development Panel, JAMA 1993;270:83-90.
  2. Levine LA, Kloner RA, Am J Cardiol. 2000;86:1201-1213.
  3. Jackson G. Int J Clin Pract. 1999;53:363-368.
  4. Swindle RW, et al. Archives of Sexual Behavior. 2004;33(1):19-30.
  5. Launmann EO, et al. Int J Impot Res. 2005; 17: 39-57.
  6. Launmann EO, et al. J Sex Med. 2007; 4:57-65.
  7. Aytac IA, et al. BJU Int. 1999;84:50-56.
  8. Dick B, et al. Int J Med Rev 2017;4(4):102-111
  9. Urology Care Foundation. Erectile Dysfunction (ED). Dapat diakses di: https://www.urologyhealth.org/urologic-conditions/erectile-dysfunction(ed). Diperbaharui Juni 2018. Diakses tanggal 20 November 2019.
  10. Hatzimouratidis K, et al. (2017). Guidelines on Male Sexual Dysfunction: Erectile Dysfunction and Premature Ejaculation, Penile Curvature and Priapism. European Association of Urology. Dapat diakses di: https://uroweb.org/wp-content/uploads/16-Male-Sexual-Dysfunction_2017_web.pdf. Diperbaharui March 2017. Diakses tanggal 15 Januari 2020.
  11. Goldstein I, et al. J Sex Med. 2008;5:2374–2380.
  12. King R, et al. Int J Impot Res. 2011;23:135–141.
  13. com.my. The harder, the better. Dapat diakses di: https://www.thestar.com.my/lifestyle/health/2011/06/19/the-harder-the-better. Diperbaharui Juni 2011. Diakses tanggal 18 Desember 2019.
  14. EAU Patient Information. Living with erectile dysfunction. Dapat diakses di: https://patients.uroweb.org/living-erectile-dysfunction/. Diperbaharui December 2019. Diakses tanggal 18 Desember 2019.
  15. Nicolosi A, et al. BJU International. 2005;95:609-614.
  16. Kalyvianakis D, et al. Int J Impot Res. 2019; doi:10.1038/s41443-019-0185-0
  17. Matz EL, et al. Sex Med Rev. 2019;7:321–328.

 

GCMA Code No.: PP-VIA-IDN-0046-NOV-2019