Skip directly to content

Rhesus Negatif Bukan Kelainan Darah

13/06/17

 

Pembagian golongan darah yang dikenal masyarakat secara umum adalah A, B, AB, dan O. Ini adalah penggolongan jenis darah berdasarkan adanya antigen di permukaan sel darah merah atau antibodi di plasma. Tetapi ada sistem penggolongan darah berdasarkan ada faktor rhesus (Rh) yang kemudian membagi golongan darah menjadi dua yaitu rhesus positif dan rhesus negatif. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan darah Rh+ (Rhesus Positif). Sebaliknya bagi yang tidak ada faktor Rh disebut rhesus negatif.

Beberapa orang menyebut rhesus negatif merupakan kelainan darah langka. Diduga hanya 15% orang yang memiliki faktor rhesus (Rh-) di seluruh dunia, biasanya pada orang-orang Kaukasian (Kulit Putih). Tetapi meskipun langka, ada penduduk Indonesia yang memiliki golongan darah rhesus negatif. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik 2010, jumlah pemilik rhesus negatif di Indonesia hanya kurang dari 1% penduduk  atau sekitar 1,2 juta orang.

Rh negatif bukan sebuah kelainan melainkan hanya variasi dari golongan darah, sama seperti golongan darah lain. Sama saja seperti warna rambut atau warna bola mata yang berbeda-beda. Perbedaannya ada pada DNA yang mengendalikan semua sifat fisik manusia.

Tetapi sampai saat ini ada anggapan bahwa orang dengan Rh negatif dianggap aneh, karena memang ada konsekuensi tersendiri saat perempuan dengan Rh negatif ini hamil. Jika seorang perempuan dengan Rh negatif hamil dan anak yang dikandungnya memiliki golongan darah Rh positif, maka sistem imun tubuh ibu akan menyerang janin karena dianggap benda asing. Risikonya, ada kelainan pada janin yang dapat ringan atau berat bahkan sampai menyebabkan kematian bayi.

Oleh karena itu penting melakukan skrining pra nikah, sehingga risiko ini dapat diantisipasi sebelum seorang perempuan dengan rhesus negatif ini menikah dan kemudian hamil. Perempuan dengan golongan darah rhesus negatif akan mendapatkan pengawasan terhadap kehamilan pertamanya. Jika status rhesus ibu dan janinnya sama-sama negatif, maka tidak akan menimbulkan masalah. Namun umumnya janin memiliki rhesus positif yang diwariskan dari ayahnya.

Kalaupun terjadi perbedaan rhesus antara ibu dan janin selama pemeriksaan kehamilan pertama, umumnya tidak atau belum menimbulkan masalah. Pada kehamilan pertama sebenarnya sudah mulai terbentuk antibodi namun belum terlalu tinggi. Masalah umumnya terjadi pada kehamilan kedua. Antibodi yang terbentuk saat kehamilan pertama akan menguat dan semakin banyak sehingga dapat masuk ke dalam plasenta dan menyerang sel-sel darah janin. Untuk mencegah hal ini terjadi, ibu hamil perlu mendapatkan suntikan rutin yang disebut anti imunoglobulin D (anti-D) sejak kehamilan pertama, untuk mencegah komplikasi pada janin. 

Saat ini di Indonesia sudah ada komunitas Rhesus Negatif Indonesia (RNI) yang merupakan komunitas yang murni bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan (Non Profit) yang dibentuk atas dasar kesamaan rhesus darah dan ketergantungan yang tinggi antar sesama pemilik darah rhesus negatif, sehingga jika suatu saat ada salah satu di antara pemiliknya membutuhkan transfusi dapat teratasi dengan cepat.

 

Referensi:

http://genetics.thetech.org/ask/ask381

http://www.babycentre.co.uk/a568837/what-is-my-rhesus-status-and-how-will-it-affect-my-pregnancy

 

WIDPAC0817137/01