Skip directly to content

RSUI, PAMKI, bersama PFIZER Dorong Upaya Implementasi Program Penanggulangan Resistensi Antibiotik di Indonesia

04/12/18

RSUI, PAMKI, bersama PFIZER Dorong Upaya Implementasi Program Penanggulangan Resistensi Antibiotik di Indonesia

Resistensi antibiotik mengakibatkan 700 ribu kematian per tahun di seluruh dunia; diperkirakan akan mencapai angka 10 juta kematian per tahun pada 20501

Jakarta, 15 November 2018 – Menyambut Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia pada 12–18 November 2018 yang mengusung tema “Change can’t wait. Our time with antibiotics is running out”, PT Pfizer Indonesia (Pfizer) bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan RS Universitas Indonesia, menegaskan kembali perlunya komitmen bersama dalam mengimplementasikan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) di Indonesia. Komitmen terhadap pelaksanaan PPRA sangat penting untuk membantu mencegah dan memerangi ancaman kesehatan masyarakat global akibat resistensi antibiotik (atau antimicrobial resistance, AMR).

Resistensi antibiotik disebabkan karena bakteri tidak lagi dapat dimatikan dengan antibiotik, sehingga mengancam kemampuan tubuh dalam melawan penyakit infeksi. Akibatnya dapat mengakibatkan kecacatan bahkan kematian. Jika jumlah bakteri resisten antibiotik semakin banyak, ragam prosedur medis seperti transplantasi organ, kemoterapi, pengobatan diabetes, dan operasi besar menjadi sangat berisiko. Efek dari kondisi ini, pasien harus menanggung perawatan yang lebih lama dan mahal.

Resistensi antibiotik saat ini bertanggung jawab atas 700 ribu kematian di seluruh dunia1. Para ahli kesehatan, termasuk organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), setuju bahwa jika tidak ada tindakan yang diambil, AMR diperkirakan akan mengakibatan sekitar 10 juta kematian secara global setiap tahun pada tahun 2050.

Untuk mengendalikan resistensi antibiotik, sangat penting mengimplementasikan upaya penatalaksanaan antibiotik. Aturan pengendaliannya sendiri sudah dikeluarkan melalui Permenkes No 8 Tahun 2015. Melalui aturan ini, setiap rumah sakit diwajibkan memiliki Tim PPRA dan menerapkan program pengendalian antibiotik di rumah sakit masing-masing. “Tantangannya sekarang adalah, bagaimana semua komunitas kesehatan, terutama manajemen rumah sakit, agar secara konsisten mengimplementasikan aturan ini di lapangan,” ujar Dr. Anis Karuniawati, PhD, SpMK(K), staf pengajar FKUI, Sekretaris KPRA, dan pengurus pusat PAMKI.

“Agar PPRA bisa dilaksanakan oleh rumah sakit secara baik, diperlukan stewardship atau komitmen bersama meliputi tenaga medis maupun non medis, juga infrastruktur rumah sakit melalui kebijakan pimpinan rumah sakit yang mendukung penggunaan antibiotik secara bijak, pelaksanaan pengendalian infeksi secara optimal, pelayanan mikrobiologi klinis dan pelayanan farmasi klinis secara professional,” kata dr.Erni Juwita Nelwan, Ph.D, Sp.PD-KPTI, konsultan penyakit tropik infeksi di RSCM dan staf pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang juga pengurus pusat PETRI (Perhimpunan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi).

“Kejadian resiko resistensi antibiotik sebagian besar dapat dicegah dengan beberapa cara, yaitu meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, kewaspadaan dini dan komunikasi aktif dengan pasien, sehingga penggunaan antibiotik dapat dilakukan secara bijak dan infeksi dapat dikendalikan secara benar,” ujar Dr. dr. Julianto Witjaksono, Sp.OG (K), MGO, Direktur Utama RSUI.

Pfizer sebagai produsen obat-obatan terkemuka di dunia, termasuk obat-obatan anti infeksi, mendorong implementasi program pengendalian resistensi antibiotik secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Pfizer sendiri memiliki komitmen untuk bekerja erat dengan komunitas kesehatan dalam menangani resistensi antibiotik3 melalui, pertama, penatalayanan aktif untuk mendukung upaya pendidikan bagi para tenaga kesehatan profesional dan masyarakat umum. Kedua, inovasi alat pengawasan resistensi yang efektif, seperti Antimicrobial Testing Leadership and Surveillance (ATLAS) database. Inovasi ini memungkinkan dokter dan komunitas kesehatan global mendapat akses gratis ke database penting tentang keampuhan berbagai perawatan antibiotik dan pola resistensi yang muncul di lebih dari 70 negara.4 Ketiga, kebijakan global untuk memfasilitasi pengembangan antibiotik dan vaksin, akses dan penggunaan yang tepat, dan bermitra dengan pemerintah dan organisasi kesehatan untuk menangani AMR. Keempat, memperluas portofolio obat-obatan anti-infektif dan vaksin untuk membantu mengobati dan mencegah infeksi serius di seluruh dunia, dan kelima, menerapkan praktik manufaktur yang bertanggung jawab yang meminimalkan dampak terhadap kesehatan manusia dan lingkungan.

“Di Pfizer, kami didorong oleh komitmen untuk melindungi kesehatan masyarakat dan untuk menjawab kebutuhan pengobatan para pasien yang menderita akibat penyakit infeksi” kata Handoko Santoso, Medical Director, Pfizer Indonesia. “Kami berharap untuk dapat terus bekerja sama secara erat dengan pemerintah, pembuat kebijakan dan komunitas kesehatan untuk mengembangkan solusi dan berbagi sumber daya untuk membantu mengurangi dampak global resistensi antibiotik.”

Selain upaya yang dilakukan oleh komunitas kesehatan, ada berbagai hal yang dapat dilakukan masyarakat setiap hari untuk membantu mencegah perkembangan dan mengurangi penyebaran resistensi antibiotik. Diantaranya, tidak membeli sendiri antibiotik tanpa resep dokter. Jika diberikan resep antibiotik, pastikan untuk mengunakannya sesuai dosis yang diinstruksikan dokter. Selesaikan program pengobatan, jangan lewatkan dosis apa pun, dan jangan minum obat yang diresepkan untuk orang lain. Lakukan vaksinasi secara berkala untuk mengurangi kemungkinan terkena infeksi yang perlu diobati dengan antibiotik.

Tentang Resistensi Antimikroba (AMR)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencirikan resistensi antimikroba (AMR) sebagai salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat global saat ini; AMR dapat mempengaruhi siapa saja pada usia berapa pun di negara manapun, mengancam kemampuan kita untuk mengobati infeksi serius dan menyediakan prosedur medis standar5. Bakteri gram negatif, penyebab banyak infeksi terkait perawatan kesehatan, telah menjadi semakin resisten terhadap banyak perawatan antibiotik yang tersedia6. Infeksi ini terkait dengan peningkatan mortalitas pasien dan biaya perawatan. Saat ini, sekitar 700 ribu kematian per tahun dikaitkan dengan resistensi antimikroba secara global dengan peningkatan hingga 10 juta kematian setiap tahun diperkirakan terjadi pada tahun 2050, jika tidak ada tindakan yang diambil untuk mengatasi masalah ini1.

Tentang Komitmen Pfizer terhadap Resistensi Antimikroba

Pfizer mengakui ancaman kesehatan masyarakat yang serius terkait dengan AMR dan telah mengambil langkah signifikan untuk mengatasi masalah ini. Pada awal tahun 2016, Pfizer ikut serta dalam penandatangan Deklarasi Perlawanan atas Resistensi Antimikroba, sebuah upaya aksi global yang disusun dan ditandatangani oleh lebih dari 100 perusahaan dan 13 asosiasi perdagangan yang mendorong kolaborasi industri dan pemerintah yang lebih besar untuk mengatasi masalah resistensi antimikroba7. Sebagai tindak lanjut dari Deklarasi Perlawanan atas AMR, Pfizer dan 12 mitra industri meluncurkan “Roadmap Industri untuk Memerangi Resistensi Antimikroba,” sebuah rencana tindakan komprehensif, yang menjabarkan empat komitmen utama yang dijanjikan untuk dilaksanakan8. Awal tahun ini, Pfizer telah diakui oleh Access to Medicine Foundation’s AMR Benchmark Report sebagai salah satu perusahaan farmasi besar berbasis penelitian yang berkinerja terbaik di pasar penyakit infeksi, dengan pengakuan kekuatan dalam pengawasan seperti yang ditunjukkan oleh database ATLAS, komitmen manufaktur yang kuat dan lini vaksin kami yang kuat.

Tentang RSUI

Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) merupakan Rumah Sakit Pendidikan Tinggi Negeri (RS-PTN) pertama di Indonesia yang mempunyai konsep dan rancang bangun fisik dengan Konsep Hijau (Green Hospital Concept) yang ramah lingkungan dan berorientasi sepenuhnya pada keselamatan pasien.

Bangunan seluas 82.074 m2 yang berdiri di atas lahan seluas 106.100 m2 ini berada di seberang kompleks area Gedung Rumpun Ilmu Kesehatan (RIK), Kampus UI Depok dan dihubungkan jembatan penghubung "sky bridge" sebagai penghubung langsung antara RSUI dengan gedung RIK.

Sivitas akademik Universitas Indonesia berhasil memadukan ilmu pengetahuan dan teknologi terkini dalam bidang teknik arsitektur, sipil, mekanikal, elektrikal, material, interior, elektro, komputer dan lingkungan untuk merealisasikan konsep hijau yang efisien pada bangunan rumah sakit modern berkapasitas 300 tempat tidur ini. Berbeda dengan rumah sakit lain, fitur keselamatan pasien dan kenyamanan bagi semua orang yang beraktivitas di dalam bangunan RSUI sudah lebih terencana.

RSUI akan siap dioperasionalkan di bulan Desember 2018.

1https://amr-review.org/sites/default/files/160525_Final%20paper_with%20cover.pdf

2https://lifestyle.kompas.com/read/2016/01/22/180700123/Bahaya.Resistensi.Antibiotik

3https://www.pfizer.com/files/investors/financial_reports/annual_reports/2017/our-innovation/antiinfectives/index.html

4https://atlas-surveillance.com/

5http://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/antimicrobial-resistance

6Vasoo S, Barreto JN, Tosh PK. Emerging issues in gram-negative bacterial resistance: an update for the practicing clinician. Mayo Clinic Proc. 2015;90:395-403

7https://www.ifpma.org/wpcontent/uploads/2018/06/Roadmap-for-Progress-on-AMR-FINAL

8https://www.amrindustryalliance.org/mediaroom/roadmap/