Skip directly to content

Variasi Tekanan Darah Berbahaya

21/10/17

VARIASI atau fluktuasi tekanan darah pada penderita hipertensi terbukti semakin menambah risiko komplikasi. Semakin besar rentang variasi itu, semakin tinggi risiko untuk mengalami kerusakan berbagai organ vital. "Berbagai penelitian terbaru membuktikan hal itu," ujar dokter spesialis saraf Yuda Turana pada diskusi kesehatan di Jakarta, pekan lalu.

Ia mencontohkan kasus dua pengidap hipertensi yang rata-rata tekanan darahnya bernilai sama, 140 mmHg. Yang satu stabil di angka 140, sedangkan penderita yang lain bervarisi di angka 110, 120, 140, 150, atau 170. "Walaupun rata-ratanya 140, penderita yang tekanan darahnya bervariasi itu lebih berisiko mengalami kerusakan organ dalam," kata dokter yang juga Dekan Fakultas Kedokteran Unika Atmajaya Jakarta itu.

Mengapa demikian? Yuda mengibaratkan tekanan darah serupa tegangan atau voltase listrik. "Ketika voltase listrik berubah-ubah, peralatan elektronik yang dialiri listrik itu akan lebih cepat rusak." Pun demikian dengan organ-organ dalam tubuh. Seluruh organ mendapatkan pasokan nutrisi dan oksigen dalam darah yang dialirkan lewat pembuluh darah. Tekanan darah yang berubah-ubah pada pengidap hipertensi, lanjutnya, lebih cepat merusak endotel, salah satu lapisan dinding pembuluh darah. Ketika endotel rusak, pembuluh darah tersebut lebih mudah mengalami aterosklerosis (kekakuan), penyempitan, bahkan penyumbatan sehingga tidak bisa mendistribusikan darah dengan baik ke organ tujuan. Akibatnya, organ seperti jantung, otak, dan ginjal akan rusak.

"Jadi ketika ada dua penderita hipertensi, yang satu stroke atau gagal ginjal, sedangkan yang lain tidak. Selain itu, karena faktor genetik juga karena faktor variasi tekanan darah ini," imbuh dokter yang berpraktik di RS Atmajaya Jakarta itu. Menurut Yuda, sejauh ini belum ditentukan rentang variasi tekanan darah yang dinilai berbahaya. "Namun, para ahli sepakat, semakin besar simpang deviasi (perbedaan) nilai tekanan darah, semakin besar risiko kerusakan organnya."

Karena itu, lanjut Yuda, sangat penting bagi penderita hipertensi untuk rutin mengukur tekanan darah secara mandiri di rumah guna mengetahui adakah variasi pada tekanan darahnya. "Variasi yang dimaksud bisa berupa perbedaan tekanan darah antara pagi, siang, malam, atau antara kemarin dan hari ini, atau beda saat diukur di klinik dengan di rumah."

Seorang penderita hipertensi yang tekanan darahnya bervariasi dianjurkan untuk segera berkonsultasi ke dokter. Upaya perbaikan bisa dilakukan melalui pemilihan jenis dan kombinasi obat yang tepat. "Obat-obatan hipertensi era sekarang dikembangkan selain untuk menurunkan tekanan darah juga agar bisa mempertahankan kestabilan tekanan darah itu selama mungkin. Arahnya, bagaimana agar dengan satu kali minum obat tekanan darah penderita bisa terjaga normal dan stabil seharian," terangnya.

Kebutuhan vs ketagihan

Terkait dengan pengobatan hipertensi, Yuda menjelaskan, untuk tahap awal pengobatan selalu diawali dengan penerapan gaya hidup sehat seperti olahraga teratur, mengurangi konsumsi garam dan minuman beralkohol, serta mengelola stres. Jika upaya itu gagal, barulah obat-obatan diberikan. Pemilihan jenis dan kombinasi obat ditentukan kondisi pasien. "Apakah penderita punya penyakit penyerta, apakah sudah mengalami komplikasi, itu semua menentukan pemilihan obat yang digunakan."

Mengenai pertanyaan sampai kapan harus mengonsumsi obat hipertensi? Yuda menjawab, "Seumur hidup. Sebab saat ini belum ada obat yang bisa menyembuhkan hipertensi. Obat-obatan yang ada berfungsi mengendalikan tekanan darah agar normal untuk mencegah komplikasi seperti gagal ginjal, serangan jantung, dan stroke." Sebagian orang, kata Yuda, sering menyalahartikan hal itu sebagai bentuk ketergantungan terhadap obat. Itu tidaklah benar. "Bukan ketergantungan, melainkan kebutuhan."

Bagaimana dengan dampak samping yang juga kerap dikhawatirkan? Yuda menjelaskan setiap obat memang memiliki efek samping. Akan tetapi, efek samping obat hipertensi tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan manfaatnya dalam mencegah kerusakan berbagai organ vital. "Tidak ada obat hipertensi yang bikin gagal ginjal. Justru kalau hipertensi tidak diobati, bisa bikin gagal ginjal," tegas Yuda.

Ia juga mengingatkan pentingnya setiap orang mengetahui nilai tekanan darahnya. "Harus ditekankan bahwa orang yang merasa sehat belum tentu sehat karena hipertensi tidak bergejala. Kalau ada yang bilang gejalanya sakit kepala, perlu dipastikan apakah sakit kepala itu benar-benar karena hipertensi atau justru sakit kepala itu yang menyebabkan tekanan darahnya naik," terangnya. (H-2)

Sumber:

Media Indonesia, 3 Oktober 2017