Contact UsInvestors

News and Media

CareersScienceContact Us
Home NewsEmpat Hal yang Perlu Didiskusikan dengan Dokter untuk Mencegah Resistansi Antimikroba di ICU: Pfizer dan Eka Hospital Suarakan Gerakan #JituDiICU

Empat Hal yang Perlu Didiskusikan dengan Dokter untuk Mencegah Resistansi Antimikroba di ICU: Pfizer dan Eka Hospital Suarakan Gerakan #JituDiICU

Jakarta, 6 September 2023 – Berurusan dengan ruang perawatan intensif (intensive care unit/ICU) bukanlah hal mudah bagi keluarga pasien, karena seringkali situasinya berhubungan dengan keselamatan nyawa. Belum lagi jika menimbang ancaman resistansi antimikroba (AMR) yang membuat bakteri, jamur atau virus penyebab infeksi pada tubuh seseorang lebih sulit ditangani dengan antibiotik, antijamur, atau antiviral sehingga pasien sulit sembuh dan perlu dirawat lebih lama.

Sekitar 7 dari 10 orang yang dirawat di ICU menerima antibiotik sebagai salah satu terapi utama untuk menyembuhkan infeksi.[1] Untuk itu, penggunaan antibiotik secara rasional sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya resistansi antimikroba di ruang ICU.

Keterlibatan pasien dan keluarganya memegang peran penting dalam hal mencegah kondisi AMR di ICU. Caranya adalah dengan membangun komunikasi yang produktif dengan tenaga kesehatan terkait.

Komunikasi dua arah ini akan meningkatkan pemahaman pihak pasien, dan mendorong diskusi lanjutan yang lebih baik mengenai rekomendasi medis dari tenaga kesehatan. Dengan begitu, pemberian antibiotik pun menjadi lebih jitu di ICU, hingga berujung pada meningkatnya kualitas perawatan yang diterima pasien dan menurunnya risiko AMR.

Sejalan dengan ini, Pfizer Indonesia bekerja sama dengan Eka Hospital dan mitra kesehatan lainnya, menyelenggarakan seminar bertema “Peran Nakes dan Keluarga Pasien dalam Mewujudkan Tata Laksana Penggunaan Antimikroba yang Bijak & Rasional di ICU: Tepat Waktu, Tepat Pasien, Tepat Guna”. Seminar ini mengupas lebih dalam manfaat gerakan #JituDiICU dengan mendorong keluarga pasien untuk melakukan komunikasi yang terbuka dan konstruktif dengan tenaga kesehatan.

“Sebagai perusahaan biofarmasi inovatif, Pfizer Indonesia menyuarakan gerakan #JitudiICU sebagai wujud kontribusi nyata dalam upaya bersama mengedukasi masyarakat. Pasien perlu berdialog dan memperoleh informasi yang jelas dari tenaga kesehatan sehingga risiko AMR dapat dipahami dan ditanggulangi,” ungkap Nora Tiurlan Siagian, Presiden Direktur Pfizer Indonesia.

Hadir sebagai seorang patient advocate, Butet Trivyantini, menyambut baik diluncurkannya gerakan #JituDiICU. “Keluarga dan pemerhati pasien sudah seyogyanya bertanya, serta mendapatkan informasi yang jelas dan edukasi tentang alasan, jenis, dosis, lama penggunaan, manfaat, dan risiko terkait penggunaan antibiotik di ICU,” jelas Butet.

Dalam kesempatan yang sama, dr. Vannesi T. Silalahi, Sp.An, MSc, KIC, dokter spesialis anestesi konsultan perawatan intensif menyatakan beberapa poin penting untuk membangun komunikasi dua arah agar meningkatkan pemahaman pihak pasien dan mendorong diskusi lanjutan yang lebih baik mengenai rekomendasi medis dan tenaga kesehatan.

Lebih lanjut dr. Vannesi menjelaskan, terdapat 4 pertanyaan yang dapat membuka diskusi dengan tenaga kesehatan dalam hal pemberian antibiotik yang lebih jitu, sehingga berujung pada meningkatnya kualitas perawatan yang diterima pasien dan menurunnya risiko AMR.

Berikut empat pertanyaan di bawah ini yang dapat membangun komunikasi dengan tenaga kesehatan:

Bagaimana penggunaan antibiotik saat ini?
Perlu diketahui bahwa tenaga kesehatan di ICU umumnya memberi antibiotik sedini mungkin (antibiotik empirik) kepada pasien sebagai tindakan darurat untuk menstabilkan kondisi pasien.[2] Tenaga kesehatan menggunakan antibiotik empirik secara cermat dengan menilai beberapa hal, misalnya tingkat keparahan infeksi, lamanya infeksi, serta lokasi dan sumber infeksi.[3] Pihak pasien dapat menanyakan jenis, dosis, lama penggunaan, rute (cara pemberian), serta efek samping penggunaan antibiotik ini kepada tenaga medis agar mendapat pemahaman yang lebih baik.[4]

Bagaimana dengan hasil uji kultur?
Perlu diketahui bahwa sebelum tenaga kesehatan memberi antibiotik definitif kepada pasien ICU, mereka akan melakukan tes laboratorium (uji kultur) untuk mengetahui secara tepat jenis bakteri penyebab infeksi pada pasien. Hasil uji kultur akan keluar dalam beberapa hari, sebagai bahan evaluasi bagi tenaga kesehatan untuk melanjutkan, menghentikan, atau mengganti penggunaan antibiotik yang sudah berjalan.[5]

Beberapa hal yang bisa ditanyakan kepada tenaga kesehatan antara lain adalah apakah akan dilakukan uji kultur, waktu keluarnya hasil uji kultur, alternatif perawatan yang bisa dilakukan setelah hasil uji kultur keluar, serta risiko pemberian antibiotik empirik apabila ternyata infeksi pasien bukan disebabkan oleh bakteri.

Bagaimana perkembangan kondisi pasien?
Selain hasil uji kultur, hal lain yang juga menjadi pertimbangan tenaga kesehatan dalam memberikan antibiotik adalah perkembangan kondisi pasien ICU, apakah membaik atau memburuk selama perawatan. Oleh karena itu, pertanyaan ini bisa diajukan secara berkala kepada tenaga kesehatan selama perawatan berlangsung.

Lebih spesifiknya, pertanyaan yang bisa diajukan antara lain adalah seberapa sering tenaga kesehatan akan memberikan informasi terbaru mengenai kondisi pasien, siapa saja yang dapat ditanyai mengenai perkembangan kondisi kesehatan pasien, tindakan lain atau perubahan pemberian antibiotik apa yang akan diterapkan jika kondisi pasien tidak kunjung membaik, dan sebagainya.

Bagaimana risiko resistansi antimikroba ditangani?
Pertanyaan ini bisa diajukan ketika rekomendasi medis dari tenaga kesehatan mengandung unsur pemberian antibiotik di dalamnya. Dengan bertanya secara spesifik mengenai langkah pencegahan AMR, pihak pasien pun dapat mengetahui secara pasti langkah-langkah yang diambil tenaga kesehatan untuk meminimalkan risiko AMR.

Beberapa pertanyaan yang bisa pasien atau keluarganya ajukan juga ke tenaga kesehatan misalnya seberapa tinggi risiko terjadinya resistansi antimikroba di ICU, indikator terjadinya resistansi antimikroba terhadap pasien, risiko transmisi bakteri, jamur atau virus yang sudah kebal ke anggota keluarga lain, serta upaya-upaya lain yang bisa dilakukan untuk menekan risiko terjadinya resistansi antimikroba.
 

***

Referensi


[1] Martin SJ, Yost RJ. Infectious diseases in the critically ill patients. Journal of Pharmacy Practice 2011: 24(1),35-43.

[2] Pangalila FJV, et al. Pedoman Antibiotik Empirik di Ruang Rawat Intensif. Jakarta: PERDICI, 2019. Diakses pada 08 Agustus 2023 melalui https://perdici.org/icu-hcu-guidelines/

[3] Ibid

[4] Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 290/MENKES/PER/III/2008 tentang Persetujuan Tindakan Kedokteran. Diakses pada 08 Agustus 2023 melalui https://rskgm.ui.ac.id/wp-content/uploads/2021/03/095.-kmk2982008.pdf

[5]Tabah A, et al. Antimicrobial de‑escalation in critically ill patients: a position statement from a task force of the European Society of Intensive
Care Medicine (ESICM) and European Society of Clinical Microbiology and Infectious Diseases (ESCMID) Critically Ill Patients Study Group (ESGCIP). Intensive Care Medicine 2020:46, 245-265.

Catatan untuk Redaksi:
Jitu di ICU merupakan gerakan edukasi kesehatan bagi masyarakat dan tenaga kesehatan yang didukung oleh Pfizer Indonesia dan mitranya dengan tujuan mendorong penggunaan antimikroba yang bijak & rasional dengan tiga prinsip penting: Tepat Waktu, Tepat Pasien dan Tepat Guna. Selain itu, gerakan ini menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara keluarga pasien dan tenaga kesehatan perlu membangun pemahaman tentang bahaya resistansi antimikroba (AMR) serta cara mengatasinya.

Tentang Pfizer: Terobosan Yang Mengubah Hidup Pasien
Di Pfizer, kami menerapkan ilmu pengetahuan dan beragam sumber daya global kami guna menciptakan terapi bagi masyarakat yang dapat memperpanjang dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara signifikan. Kami berusaha keras untuk menetapkan standar pada kualitas, keamanan dan nilai dalam penemuan, pengembangan dan pembuatan produk layanan kesehatan, termasuk obat-obatan dan vaksin yang inovatif. Setiap harinya, mitra kerja Pfizer di seluruh dunia bekerja di berbagai negara maju dan berkembang untuk meningkatkan kesehatan, pencegahan, perawatan dan penyembuhan yang mampu melawan berbagai penyakit yang paling ditakuti saat ini. Sejalan dengan tanggung jawab kami sebagai salah satu perusahaan biofarmasi inovatif perintis di dunia, kami berkolaborasi dengan penyedia layanan kesehatan, pemerintah, dan komunitas lokal untuk mendukung dan memperluas akses layanan kesehatan yang terpercaya dan terjangkau di seluruh dunia. Selama lebih dari 170 tahun, kami bekerja untuk membuat perubahan bagi semua yang mempercayai kami.

Untuk mengetahui informasi tentang Pfizer di Indonesia, silakan kunjungi www.pfizer.co.id serta ikuti kami di Instagram dan YouTube @pfizer_id.
 

Pfizer Indonesia Media Contact

Jetsadanee Iamsupatsawat
++66 (0) 92 2595536
[email protected]

PP-UNP-IDN-0356-AUG-2023
 

News and MediaCareer Privacy StatementTerms of Use Contact Us

Copyright © 2024 PT Pfizer Indonesia. All rights reserved.
PP-UNP-IDN-0134-OCT-2023